Mini FF#The Great Prince of Sendok# The Dukedom and Love…Part 3

Setelah sampai di tepi sungai Guang Hian, Geun Suk yang tidak tahan menahan tangis langsung memeluk Kibum.

“Adik! Kau harus berhati-hati. Aku sangat menyayangimu.” Menangis memeluk Kibum. “Iya yang Mulia! Yang Mulia, anda tidak usah menangis seperti ini. Aku juga ikut2an sedih.” Kata Kibum berusaha menahan tangis.

“MATI KAU!” kata Hye Sung menembakkan anak panah kearah Kibum dari balik pohon. Namun saat itu Kibum berjalan kearah dayang Song. Dan anak panah sang di tembakkan Hye Sung pun meleset. Menyadari ada orang yang membuntutinya Hwa Rang Cho juga menembakkan anak panah kearah lawannya. Sebuah anak panah menembus pantat Hye Sung.

“AWWWWWWWWWWW!!” Hye Sung meringis kesakitan. Tidak ingin kalah, Hye Sung pun menembakkan anak panah keduanya kearah Kibum. Namun, anak panah itu malah menembus kaki Geun Suk. Geun Suk terjatuh dan pingsan.

“Yang Mulia!” Hwa Rang Cho menggendong Geun Suk dan bersembunyi bersama dayang Song dan Kibum.

Setelah beberapa jam Geun Suk pun sadar, namun ada yang berbeda dari Geun Suk. Ya! Bibir bagian atas putra mahkota itu seperti orang sumbing. Tangan kanannya terangkat keatas dan kepalanya teleng. Geun Suk mengalami “STROKE”.

“Yang Mulia!” Kibum menangis melihat keadaan hyungnya. “E…e…e…e…” Geun Suk berusaha berbicara. “Yang Mulia………” Hwa Rang Cho tidak tahan menahan tangisannya. “Kita harus segera membawa Yang Mulia ke istana!” kata Dayang Song memberi saran. “Huaaaaaa……….Yang Mulia! Jangan tinggalkan aku!” Kata Hwa Rang Cho menangis kencang. Melihat perkataan pengawalnya itu, tangan kiri Geun Suk pun memukul kepala Hwa Rang Cho. Hwa Rang Cho manyunin mulut dan memegang kepalanya.

================================================================

Hye Sung mengendap-ngendap dengan pantat terluka mengintip tempat Putra mahkota Geun Suk dan teman-temannya berdiam. Sebuah perasaan aneh menggerogoti hatinya. Apakah wujud perasaan itu? Hye Sung melihat kasih sayang yang sangat dalam terpancar dari wajah Kibum dan Geun Suk. Seketika air mata merembes bulu matanya dan teringat bagaimana Nichkhun selalu menyayangi dan menasihatinya. Hwa Rang Cho yang melihat Hye Sung langsung menangkapnya.

“Apa yang kau lakukan disini?!” kata Hwa Rang Cho mengagetkan. Hye Sung panik dan mengedarkan pandangannya kesekitar mencari celah untuk lari. “Kau tidak bisa lari lagi!” menekuk tangan Hye Sung dan membawanya kedalam gubuk tempat mereka berdiam.

“Hwa Rang Kim!” Dayang Song kaget melihat lelaki yang dicintainya tertangkap. Hye Sung hanya menundukkan kepala.

Dayang Song sudah lama memendam perasaan pada Hye Sung. Namun karena ia tau sifat keras yang dimiliki Hye Sung, maka ia selalu berusaha untuk menghilangkan perasaan itu. Sebuah cinta terpendam. Tanpa diketahui Dayang Song, Hye Sung juga memiliki perasaan yang sama. Namun, ia berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh. Karena ia menganggap cinta hanya akan menghancurkan cita-citanya untuk menjadi seorang penguasa kerajaan Sendok.

Sementara itu Kibum selalu duduk disamping Geun Suk, berusaha menenangkan hyung yang sangat dicintainya. “Yang Mulia, kita akan segera pergi ke istana untuk mendapatkan perawatan.” Kibum menangis sambil memegang tangan Geun Suk.

Hati Hye Sung semakin miris melihat kasih sayang antara dua kakak beradik itu. Ia berpikir, dua orang bersaudara yang terpisah saja bisa saling menyayangi seperti itu. Sementara ia, yang berada dekat dengan hyungnya tidak pernah menganggap Nichkhun sebagai hyung.

================================================================

@Kerajaan Seondeok

Di perjalanan menuju istana, Geun Suk yang di gendong Kibum hanya menangis. Semua rakyat menundukkan kepala tanda hormat kepada Putra Mahkota yang sedang melintas di depan mereka.

Sementara itu, Hwa Rang Cho membawa Hye Sung ke ruang tahanan untuk mejalani hukuman.

================================================================

@Istana Seondeok

Kibum meninggalkan Geun Suk di depan gerbang istana. Dan mencium kening Hyung nya itu. Sementara itu, dayang Song menuju kediaman raja untuk memberitahukan bahwa Putra mahkota telah pulang.

Tak lama kemudian, raja, dan Hwa Rang Cho datang.

“Ananda!” raja yang berada beberapa meter dari tempat Geun Suk duduk, langsung berlari menuju putra kesayangannya itu. “A…a…yah…” Kibum yang mengintip beberapa meter dari luar gerbang istana menangis melihat sosok ayah yang selama ini dicarinya dan pergi meninggalkan istana.

Hwa Rang Cho memanggil Hwa Rang lain untuk membantunya memapah Geun Suk menuju kediamannya.

================================================================

@Kediaman Geun Suk

“Yang Mulia! Hwa Rang Kim sudah tertangkap dan siap untuk menjalani hukuman.” Kata Hwa Rang Cho menjelaskan. “Tugas itu kuserahkan padamu! Yang ingin kutanyakan sekarang, dimana anak itu?” Kata raja memaksa Hwa Rang Cho untuk mengatakan keberadaan Kibum. “Hamba…tidak tau Yang Mulia.” Hwa Rang Cho berusaha menyembunyikan dan menundukkan kepalanya. Raja hanya menghembuskan napas dan menyuruh Hwa Rang Cho keluar. “Kau boleh pergi.”

================================================================

Hwa Rang Kim Hye Sung siap menjalani hukuman cambuk. Hukuman yang tergolong cukup ringan, karena Hye Sung merupakan kerabat dekat istana. Jika hukuman yang diterimanya terlalu berat, maka kerajaan akan mendapat konflik besar dan membahayakan kedudukan raja.

Hye Sung pasrah menjalani hukuman yang diterimanya, karena sejak kejadian itu ia mulai sadar bahwa kejahatan hanya akan menjatuhkan dirinya. Persis seperti apa yang dikatakan Nichkhun padanya. Dan ia juga sadar bahwa cinta itu ada.

Setelah selesai menjalani hukuman Hye Sung pulang dipapah oleh Nichkhun.

================================================================

@Kediaman Bangsawan Kim

Hye Sung yang merasa perbuatan yang ia dan ayahnya lakukan itu salah, meminta ayahnya untuk berhenti menjatuhkan kekuasaan raja. Bangsawan Kim yang tidak terima dengan perkataan Hye Sung mengusir anak laki-laki yang sangat ia sayangi itu.

“KAU SUDAH MULAI KURANG AJAR SEKARANG!” menampar pipi Hye Sung. Nichkhun yang melihat kejadian itu, berusaha menghentikan. Namun, kemarahan bangsawan Kim tak dapat di hentikan. “AKU TIDAK MEMBUTUHKAN ANAK SEPERTIMU! PERGI KAU! ANAK DURHAKA!” Kata bangsawan Kim marah.

Hye Sung pergi meninggalkan kediaman ayahnya. Nichkhun mengikuti Hye Sung, namun langkahnya dihentikan bangsawan Kim. “Nichkhun! Biarkan anak itu pergi! Apa kau juga mau menjadi anak durhaka sepertinya?” Nichkhun yang mendengar perkataan ayahnya menghentikan langkahnya. Dan terdiam terpaku

================================================================

Hye Sung yang merasa bersalah pada ayahnya, berusaha meminta maaf dari luar kediaman bangsawan Kim. Terlihat Hye Sung berlutut diluar kediaman sambil menangis. “Ayah! Maafkan aku!” Dayang Song yang melintas di depan kediaman bangsawan Kim juga meneteskan air mata melihat orang yang dicintainya tak berdaya dengan pakaian yang setengah terbuka dan luka-luka bekas cambuk ditubuh.

Suara petir berdentum keras, menandakan hujan akan datang. Hye Sung yang sejak tadi berlutut diluar kediaman bangsawan Kim tetap dengan posisinya, sambil menundukkan kepala. Dayang Song yang sejak tadi melihatnya, mulai melangkahkan kaki pulang.

“Ayah…maafkan lah dia! Aku mohon padamu ayah!” Nichkhun menangis dan memohon pada ayahnya. Bangsawan Kim melihat keluar jendela dan pergi menuju kamar seperti tidak menghiraukan perkataan Nichkhun.

Hye Sung mulai merasakan tubuhnya kaku dan tak berasa. Namun, tekad untuk meminta maaf pada ayahnya masih membahana sehingga rasa sakit yang ia rasakan pun hilang perlahan-lahan. Nichkhun yang melihat keadaan adiknya dari jendela hanya menangis.

================================================================

Keesokan harinya.

“Bawa ia masuk!” Bangsawan Kim memerintahkan pada Nichkhun. Nichkhun yang senang mendengarkan perkataan ayahnya, tak dapat mengatakan apapun dan langsung menuju luar kediaman untuk membawa Hye Sung masuk.

Hye Sung yang gembira mengetahui bahwa ayahnya telah memaafkannya, hanya tersenyum dan pingsan. Nichkhun membawa tubuh adiknya kekamar.

Bangsawan Kim yang sebenarnya tidak tega melihat anaknya seperti itu, menangis dari balik pintu kamar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s