Mini FF “Black Flower? 2/2” (Last Part)

Title : “ Black Flower? ”
Genres : Romance, Ballad
Author : Cha_Nichbum

Casts : Song Joong Ki
Lee Jin Ki (Onew)
Choi Min Ho
Park Sang Hyun (Thunder)
Go Byung Cha a.k.a Shim Ah Ra
Kim Yesung
Ah Ra eomma

Flash Back
Byung Cha dipecat oleh Jung Ki yang merasa tidak senang pada dirinya.
Namun, Jung Ki kembali mencari Byung Cha yang mirip dengan istrinya itu. Karna Eomma Ah Ra kembali ke Korea.
Byung Cha kembali kerumah Jung Ki cs. Eomma tinggal bersama mereka.
Acara konser perdana T.H NAMJA sedikit membuat Byung Cha tidak enak. Saat pandangan Min Ho tidak lepas dari Byung Cha di depan para fans.

Setelah konser selesai, Jung Ki berjalan menyusuri jalan setapak yang terhampar di hadapannya. Terlihat kemilau bintang yang berkelap-kelip sedikit menarik perhatian kedua matanya. Jung Ki memang terbiasa melakukan rutinitas seperti itu setelah selesai performance. Ia mulai mengembangkan kedua tangannya dan menghirup udara malam yang mulai menusuk kulitnya yang hanya terbungkus jas abu-abu yang ia pakai ketika konser.

“Hauffffffhhhtttttt~!!!” Ia menghembuskan sedikit udara dari mulutnya.
Sambil melakukan sedikit pemanasan dengan menggerak-gerakkan kepalanya kekiri-kekanan. Pandangannya terhenti sejenak, saat sesosok wanita yang sedang duduk memandangi kemilau lampu kota Seoul yang terlihat sangat indah dari atas bangunan tempat ia berdiri. Senyuman kecil tersungging dari bibir wanita itu. Sangat manis, sangat berbeda dengan sikap yang ia tunjukkan biasanya.
Pandangan Byung Cha tertahan pada Jung Ki yang sedang memperhatikannya sejak tadi. Dengat kilat, ia memalingkan wajahnya dan kembali menyesap kopi miliknya. Jung Ki yang menyadari Byung Cha melihatnya, gelagapan sambil tersenyum kecil, menggaruk-garuk kepalanya sebentar dan berjalan meninggalkan tempat itu.

“Hyung…” Min Ho menyapa Jung Ki yang melintas di depannya. Jung Ki hanya tersenyum kecil pada Min Ho.
Min Ho berjalan menuju bangunan teratas gedung itu, matanya liar mencari sosok yang ia cari sejak tadi.
“Min Ho sshi~!!” Byung Cha melambaikan tangannya.
Min Ho tersenyum mendekati Byung Cha.
“Kau mencariku?” Tanya Byung Cha sambil tersenyum manis pada Min Ho.
“Ne? Ah…iya! Aku mencarimu sejak tadi.” Min Ho terdiam sejenak.
“Byung Cha sshi~ Apa kau merasa terganggu dengan kejadian tadi?” Lanjut Min Ho.
“Oh…aniyo! Aniyo…Gwenchana~ Aku tidak apa-apa Min Ho sshi, sangat wajar jika seorang fans takut idolanya dekat dengan wanita lain. Aku bisa paham, tapi mereka seharusnya diberitahu kalau aku dan kau hanya teman biasa. Kapan konferensi pers nya?” Tanya Byung Cha berseloroh.
“Byung Cha sshi~ E…ehm…” Min Ho menanggapi pertanyaan Byung Cha serius, perkataannya tertahan.
“Ne? Min Ho sshi?” Byung Cha mengerutkan dahinya.
“Ah…Aniyo~ Ayo kita pulang!” Min Ho menarik tangannya Byung Cha dan membawanya turun kebawah.

++++++++++++++++++++++++++

++++++++++++

@Home
“Oh~ Kalian sudah pulang! Sudah makan?” Eomma menyambut kedatangan anak, menantu dan teman-teman mereka itu.
“Oh~ Belum eomma! Eomma sudah makan? Aku buatkan mie dulu ya!” Byung Cha bergegas menuju dapur.
“Aishhh~Byung Cha~a! Eomma sudah masak, makan malamnya sudah siap.” Eomma menarik tangan Byung Cha.
“Oh~Khamsahamnida ahjumma!” seru Sang Hyun dan Min Ho.

Suasana makan malam sangat tenang, tak terlihat percekcokan seperti biasanya dari mulut Byung Cha dan Jung Ki. Tertawa yang di sembunyikan Min Ho, dan godaan-godaan kecil Sang Hyun.
Setelah makan malam selesai, mereka masing-masing langsung memasuki kamar dan sebelumnya berpamitan pada eomma terlebih dahulu.

+++++++++++++++++++++++++++++++

@Jung Ki’s Room
Byung Cha meletakkan tas dan sebuah kalung yang ia pakai diatas meja kerja Jung Ki, lalu mengambil handuk dan pakaian sambil memasuki kamar mandi.
Jung Ki membaringkan badannya di atas tempat tidur sambil merentangkan kedua tangannya. Ia memejamkan matanya, sampai saat telepon genggamnya berdering.

“Ne…Ne Yesung sshi!” Jung Ki menutup telponnya lemah.
Ia meletakkan kembali telepon genggam miliknya diatas meja kerja. Ia terkesiap saat melihat seutas kalung di atas meja kerjanya tersebut. “170709” Kalung pemberian ibunya yang diberikannya pada Ah Ra setahun lalu. Seutas kalung yang bertuliskan hari pernikahan mereka.
“Shim Ah Ra~” Jung Ki terkesiap, mulutnya sedikit terbuka tidak percaya.
“Kau sedang apa?” Byung Cha bertanya pada Jung Ki yang sedang memegang kalung miliknya, tatapan heran melayang dari kedua matanya. “Ah…Ani…Aniyo~! Aku hanya sedang membereskan meja kerjaku. Tolong turunkan tas dan kalungmu ini! Aku tidak suka kalau barang milikku bercampur dengan barang orang lain!” Jung Ki menjatuhkan tas dan kalung Byung Cha kelantai.
“Aisssssssssssshhhhhh~ KAU MEMANG ORANG YANG MENYEBALKAN!” Byung Cha memungut barang-barangnya.

Jung Ki mematikan lampu kamar, terlihat cahaya remang-remang dari lampu tidur kamarnya.

“Aisssssssssssshhhhhhh~ Jung Ki~a!!!Kenapa kau matikan? Aku kan belum mengembangkan alas tidurku!” Kata Byung Cha geram.
Jung Ki tak menjawab, ia memejamkan matanya seperti tidak mendengar apapun.
“Aisssssssssssssssssssshhhhhh~ Kau memang manusia yang sangat menyebalkan Jung Ki sshi~!!!”

Byung Cha menarik selimut, bantal dan alas tidurnya dari tempat tidur Jung Ki.
Jung Ki membalikkan tubuhnya, sehingga Byung Cha tak dapat melihat wajahnya sambil tersenyum kecil dengan matanya yang tertutup.
Malam itu, hujan sangat lebat. Sedikit air menyemprot melalui terali jendela kamar Jung Ki yang sengaja tidak diberi kaca, dan membasahi lantai yang berada di dekat meja kerjanya itu. Byung Cha memalingkan arah tidurnya kesofa yang terletak dekat tempat tidur.

“Byung Cha sshi~ Ada hal yang ingin kutanyakan padamu!” Tanya Jung Ki enteng.
“Ehm…Besok saja…Aku ngantuk…” Byung Cha memejamkan matanya.
“Byung Cha sshi~! BANGUN! KAU TIDAK BOLEH MELAWANKU!” Jung Ki duduk dari tidurnya dan berteriak kencang.
“Ne!!! WAEYO?!!” Byung Cha pun duduk di sofa menghadap posisi duduk Jung Ki.
“Apakah EunHee Noona itu, kakak kandungmu?” Tanya Jung Ki pelan.
“Ne~” Kata-kata Byung Cha terhenti sejenak.
“Bagiku dia sudah seperti kakak kandungku sendiri.” Jawab Byung Cha lirih.
“Apakah kau tidak punya keluarga selain dia?”
“Aniyo~ Aku hidup sebatang kara. Tak…Aisssshhhhh~ Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?” Byung Cha menyipitkan matanya.
“Aissssssssssshhhh~ Kau! Cepat ceritakan saja! Aku harus tau riwayat hidup pekerjaku!” Jung Ki mengangkat tangan kanannya seperti ingin menampar.
“Baiklah!!” Byung Cha terdiam sejenak.
“Aku hidup sebatang kara. Eun Hee eonnie lah penyelamatku, jika ia tidak merawatku, mungkin aku tidak bisa lagi melihat dunia ini. Aku tau, saat kecelakaan itu ia yang menabrakku. Tapi, ia juga yang menyelamatkan hidupku. Merawatku seperti saudara kandungnya sendiri. Ia tidak pernah membahas latar belakangku, siapa aku? Aku berasal dari keluarga bagaimana? Hidupku! Heh…Aku tidak pernah tau bagaimana kehidupanku di masa lalu, sampai saat wajah Eun Hee eonnie yang kulihat saat aku sadar dari komaku. Entah siapa keluargaku? Bagaimana hidupku? Hah…Tapi, aku bersyukur telah mengenal orang sepertinya. Pernah aku berpikir untuk berusaha mengingat masa laluku, tapi hasilnya nihil. Aku tak bisa mengingat apapun. Tapi sekarang, heh…Aku tidak peduli lagi bagaimana hidupku di masa lalu. Aku harus memulai hidupku kembali.” Byung Cha memejamkan matanya mengakhiri ceritanya.
Jung Ki terdiam, air matanya menetes. Dengan cepat ia lap air yang jatuh dari pelupuk matanya itu.
“Mianhe~” Jung Ki berkata pelan sambil memejamkan matanya.

+++++++++++++++++++++++++++++++

Keesokan paginya, Jung Ki terlihat sudah rapi, dengan kaus putih dan jeans hitam kesayangannya. Tak lupa kaca mata berlensa putih yang biasa di pakainya saat keluar rumah, kecuali saat performance.
“Jung Ki~a! Kau sarapan dulu!” Eomma menyuruh Jung Ki duduk.
“Oh…Aniyo eomma~ Aku harus segera pergi! Kkajja~!” Jung Ki menarik tangan Byung Cha yang baru selesai menyesap susunya.

Eomma, Min Ho, dan Sang Hyun hanya menatap mereka heran. Byung Cha hanya menurut saja. Walaupun sebenarnya ia ingin berontak.

@Diluar Rumah

“Aissssssssshhhhhhhhhh~! KAU!” Byung Cha melepaskan genggaman tangan Jung Ki yang membekap erat pergelangan tangannya sambil mengusap-usap tangan kanannya itu.
“Sakit?” Tanya Jung Ki pelan sambil memandang tangan Byung Cha.
“Ya! Aisssssssshhhhh~!” Byung Cha masih mengusap-usap tangannya.
“Hyung~!” Min Ho tiba-tiba mendekati Byung Cha dan Jung Ki.
“Hyung! Kau ingin kemana?” lanjut Min Ho.
“Oh…Kau Min Ho~ Aku ingin membawanya ke rumah sakit!” jawab Jung Ki
“Rumah sakit?” sambung Min Ho.
“Wae? Aku harus memastikan kalau pekerjaku ini sehat, supaya kita tak tertular penyakit kampungnya itu!” Jung Ki menyipitkan matanya pada Byung Cha sambil tersenyum sinis.

Byung Cha memonyongkan mulutnya sambil melancarkan pandangan setan miliknya dan mengeluarkan beberapa kata yang sulit di dengar.

“Kkajja~!” Jung Ki menarik tangan Byung Cha sambil mendorong tubuhnya masuk kedalam mobil.
“Hyung~!” Min Ho memukul kaca jendela mobil Jung Ki.

Tapi mobil itu tetap saja meluncur cepat meninggalkan rumah.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

@Hospital
Byung Cha melakukan beberapa pemeriksaan. Ia sendiri tidak mengerti kenapa majikannya itu membawanya ke rumah sakit. Setaunya, ia tidak memiliki penyakit apapun.
Byung Cha masi di dalam kamar pemeriksaan ditemani seorang suster. Dokter membawa Jung Ki keruangannya.

“Bagaimana dok? Apa dia memang mengalami amnesia?” Tanya Jung Ki sambil mendekatkan wajahnya kemuka dokter.
“Ya~ Pasien memang mangalami amnesia. Tolong jangan buat ia stress atau memaksanya untuk mengingat masa lalunya, karna itu akan menghambat proses penyembuhan. Tapi, anda ini siapa?”
“Oh…saya Song Jung Ki…suaminya dok!”
“Oh, tuan Jung Ki…Saya harap anda bisa sabar! Karna proses penyembuhan ini memang terbilang lama, benturan di kepala pasien hampir menghilangkan memori masa lalunya. Tapi saya yakin istri anda bisa sembuh. Bersabarlah…” Dokter meninggalkan ruangan sambil memukul pundak Jung Ki.

Jung Ki keluar dari ruangan dokter, ia mengusap wajahnya. Terlihat sedikit murung di wajahnya. Perasaan bersalah atau apalah…

“Jung Ki sshi…” Byung Cha yang baru saja keluar dari kamar mendekati pria di depannya itu.
“Jung Ki sshi? Kau tidak apa-apa?”
“Ne~Gwenchanayo!” Jung Ki berusaha tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar rumah sakit. Byung Cha mengikuti.

Sepanjang perjalanan pulang, Jung Ki hanya diam saja. Berbeda dari biasanya.
“Jung Ki sshi, Gwenchanayo?”
“Hm…” Jung Ki hanya mendengus, sambil terus memperhatikan jalan.

Byung Cha merasa sedikit aneh, kasihan, bercampur aduk. Karna ia tidak mengerti masalah apa yang sedang di simpan oleh pria disebelahnya itu. Perubahan Jung Ki benar-benar 180 derjat.
Mereka berdua melewati sebuah gedung, gedung dengan ornament tua tempat dimana Jung Ki dan Ah Ra melangsungkan pesta pernikahan mereka. Byung Cha memandang keluar jendela. Kepalanya terasa sedikit berputar-putar.

“Jung Ki sshi, berhenti sebentar!”
“Ne~!” Jung Ki menghentikan mobilnya.

Jung Ki memapah Byung Cha keluar mobil.
“Gwenchanayo?” Tanya Jung Ki cemas.
“Ne~” Byung Cha mendudukkan tubuhnya disebuah kursi.

Jung Ki melihat sekitarnya. Gedung beronamen tua itu, mencekal matanya.
“Aisssssshhhhhh~ Ayo kita pergi!” Jung Ki memapah Byung Cha masuk kedalam mobil.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++

“Yeaaaaahhhhhh~! Cut…” Sutradara Kim menghentikan proses syuting malam itu.
“Jin Ki~a! Istirahatlah… Kau sudah melakukannya dengan baik hari ini! Besok kita lanjutkan lagi!” sutradara menambahkan.
“Khamsahamnida~!” Jin Ki membungkukkan badannya dan berjalan menuju parkiran mobil.
“Aku duluan ya!” Jin Ki pamit.
“Ne~ Hati-hati Jin Ki~a!” Semua kru serentak.
“Jin Ki sshi~ Aku tidak bisa mengantarmu pulang hari ini, tadi istriku telpon , ia bilang ibuku sedang dirawat.”
“Ne~ Kau pergi jenguk ibumu saja menejer Jung! Aku tidak apa-apa!” Jin Ki kembali melanjutkan langkahnya

++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Sesampainya dirumah, Jung Ki langsung memasuki kamarnya. Tapi, tiba-tiba ia membuka kedua kelopak matanya dan bergegas menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya. Ia membasuhnya cepat dan memandang wajahnya di kaca, sambil menatap dirinya yang sangat menyedihkan. Setumpuk perasaan bersalah, takut bercampur aduk. Satu lagi, ia mulai merasakan jantungnya berdegup tak karuan saat berada di dekat Byung Cha.
Byung Cha membuka pintu kamar. Jung Ki yang akan keluar dari kamar mandi melihat Byung Cha memasuki kamar kembali menutup pintu dengan cepat.

“Aissssssshhhh~ Jung Ki~a! Kenapa kau menutupnya?” Jung Ki memukul kepalanya dan membuka pintu kamar mandi itu kembali.
Byung Cha yang melihat Jung Ki keluar dari kamar mandi hanya menatapnya heran.
“WAEYO?!” Bentak Jung Ki.
“Ah…ani~aniyo! Chogi…” Byung Cha terbata-bata menggaruk sedikit kepalanya sambil menunjuk kearah jendela.
“Aisssssssshhhh~” Jung Ki keluar kamar.
“Hyung~! Kau mau kemana?” Sang Hyun menghentikan langkahnya saat melihat Jung Ki yang akan keluar rumah.
“Cari angin!”
“Aku ikut~”
“Aisssssssssh~ Bocah ini! Ayolah…”

Mobil Jung Ki berhenti di tepi jalan, ia segera keluar dari mobilnya. Merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara malam.

“Hyung~ Kau benar-benar cari angin!” cerocos Sang Hyun.
“Sang Hyun~a! Apa kau pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya?”
“Ehm…Aku…Aku tidak tau hyung!”
“Aissssssshhhh~Aku salah bertanya padamu tentang itu, kau memang tidak akan mengerti! Seharusnya aku bertanya pada Min Ho.” Jung Ki memukul kepala Sang Hyun.
“Hyung?!”
“Aisssssssshh~ Tak usah dipikirkan…Kkajja~!” Jung Ki kembali memasuki mobilnya. Sang Hyun mengikuti.

+++++++++++++++++++++++++++++

Sang Hyun meminta Jung Ki untuk berhenti sebentar di sebuah toko bunga yang terletak beberapa km dari rumahnya.

“Hyung~ Kita berhenti sebentar! Aku ingin membelikan bunga untuk ibuku. Besok aku ingin menjenguknya.”
“Ne~ Baiklah!” Jung Ki menghentikan mobilnya.
“Ada yang bisa saya Bantu?” Tanya seorang karyawan pada mereka berdua.
“Ah..Ne~ Aku minta sepuluh tangkai mawar merah.” Ujar Sang Hyun sambil tersenyum.
Karyawan toko tadi memilah-milah mawar, dan membungkusnya dalam sebuah plastik putih yang di tata sedemikian rupa dengan sebuah pita merah diluarnya. Setelah selesai, ia memberikan bunga tadi pada Sang Hyun.
“Gomawoyo~” Sang Hyun membungkukkan badannya setelah memberikan uang pada karyawan tadi.
“Cakkaman~” Jung Ki menghentikan Sang Hyun yang akan membuka pintu.
“Aku ingin beli bunga juga, satu tangkai saja. Yang itu!” sambung Jung Ki sambil menunjuk tumpukan mawar putih di pot.
“Oh~ Ne!” Aku akan membungkusnya ujar karyawan itu.
“Hyung~ Kau beli bunga untuk siapa?” Tanya Sang Hyun heran.
“Ah…Untuk ku! Apakah aku tidak boleh memiliki setangkai bunga?”
Sang Hyun hanya memandang aneh pada Jung Ki. Tapi, kali ini ia tidak bertanya lagi.
“Oh…Chogi~! Aku bisa minta bunga ini di cat hitam?” Jung Ki meminta.
“Ah~ Ne…Aku akan mencatnya. Dengan ini, kuharap bisa tahan lama.” Ujar sang karyawan tadi sambil melakukan pekerjaannya.
“Hyung?” Tanya Sang Hyun heran.
“Heh~ Aku akan memajangnya dikamar. Sudah lama aku ingin memajang bunga di kamarku. Tapi belum ada warna yang cocok.” Jawab Jung Ki membuyarkan keheranan Sang Hyun.

Setelah membeli bunga-bunga tadi, Jung Ki dan Sang Hyun pulang.
Sang Hyun memasuki kamarnya, setelah berpamitan pada Jung Ki terlebih dahulu. Jung Ki belum memasuki kamar, ia menyalakan televise. Beberapa kali ia memencet tombol remote di tangannya. Ia menjatuhkan dirinya di sofa yang terletak di belakangnya.

“Hyung~” Min Ho yang keluar dari kamarnya mendekati Jung Ki yang sedang duduk sendiri.
“Aissshhhh~ Kau! Membuatku kaget saja.” Jung Ki sedikit kaget mengetahui kedatangan Min Ho.
“Hyung~ Aku ingin bicara padamu!”
“Katakan saja!”
“Aku tau, hal ini tidak perlu ku katakan padamu. Tapi, aku harus mengatakannya. Aku tidak suka melihatmu dekat dengan Byung Cha! Aku…Aku…Aku menyukai Byung Cha.” Kata Min Ho tertahan.
Seakan sebuah batu besar menghimpit tubuh Jung Ki. Ia terdiam sejenak. Sampai akhirnya, ia mulai angkat bicara.
“Min Ho sshi, itu perasaanmu! Kau yang punya. Aku tidak punya hak untuk merubah perasaan seseorang. Heh…” ujar Jung Ki tersenyum kecil sambil memukul pundak Min Ho pelan dan meninggalkan Min Ho beranjak kekamarnya.

Jung Ki membuka pintu kamarnya pelan, ia tidak ingin membuat orang di dalamnya terbangun. Ia berjalan gontai, matanya sedikit nanar. Ia ingin menjerit sekerasnya malam itu. Ia mulai menjatuhkan dirinya di tempat tidur, memandangi mawar hitam yang baru ia beli tadi.
“Heh…Kau menggambarkan perasaanku saat ini! Gelap, kelam, ntah apa yang ingin kulakukan? Sampai otakku pun tidak pernah mengetahui bagaimana keinginan hatiku.” Jung Ki memandangi mawar hitam miliknya, dan meletakkan mawar tersebut di dadanya. Sambil memejamkan mata.

+++++++++++++++++++++++++++++++

Keesokan paginya.
Pagi itu, semua penghuni rumah mewah yang dihuni oleh T.H NAMJA, Byung Cha dan eomma sarapan pagi bersama. Min Ho yang datang terlambat, membuka kursinya dan memandang kearah Jung Ki sebentar. Jung Ki juga melancarkan sebentar pada Min Ho, namun dengan cepat ia melepaskan pandangannya dan menyesap kopi miliknya.

Setelah selesai sarapan, Sang Hyun tiba-tiba angkat bicara.

“Hyung~ Hari ini aku ingin menjenguk ibuku di Pusan! Aku tidak bisa ikut latihan dengan kalian. Mianhe…”
“Oh…Sang Hyun omoni sedang sakit? Kalau begitu kalian berempat juga harus ikut.” Ujar omoni.
“Ah..andwae…tidak usah! Biar aku sendiri saja. Mereka juga pasti punya banyak pekerjaan.” Sang Hyun menolak.
“Gwenchana Sang Hyun~a! Kami akan mengantarmu. Kita kan sudah seperti keluarga, tidak usah sungkan begitu.” Jung Ki menengahi.

Mereka berempat pun pergi bersama. Terpisah dalam dua mobil, Min Ho bersama Byung Cha, sedangkan Sang Hyun dan Jung Ki dalam satu mobil.
“Hyung~! Aku boleh bertanya padamu?” Sang Hyun menatap Jung Ki dalam dari sebelahnya.
“Ne~ katakanlah!”
“Hyung~ Apa kau menyukai Byung Cha?”
“Ne?!”
“Aku bisa melihat gelagatmu hyung~ kita sudah kenal setahun yang lalu, dan tinggal bersama hampir dua bulan. Aku bisa melihatnya hyung.”
“Aisssssssshhhhh~ Bocah ini!” Jung Ki memukul jidat Sang Hyun yang berada disebelahnya.
“Hyung~ Katakan saja! Aku akan menjaga rahasiamu. Tapi, yang aku sesalkan kau kan sudah mempunyai istri. Atau mungkin kau hanya menjadikan Byung Cha sebagai pelarian atas istrimu yang menghilang itu?”
“Aisssssssssshhhhhh~ Kau bicara apa?”
“Song Joong Ki hyung~!” ucap Sang Hyun memelas.
“Hahahah…Bagaimana jika wanita itu benar-benar istriku?” kata Jung Ki enteng.
“Mwo?!”
“Ne~ Dia memang istriku!” Jung Ki tersenyum kecil.
Sang Hyun terkejut heran, mulutnya sedikit terbuka. Ia menggaruk-garuk kepalanya dan memandang Jung Ki aneh, seakan sulit dipercaya semua perkataan Jung Ki barusan.

++++++++++++++++++++++++++++

Sesampainya di rumah sakit Pusan, Sang Hyun membawa mawar merah miliknya. Jung Ki hanya menatap mawar hitam yang ia pajang di depan mobilnya sambil tersenyum kecil menutup pintu mobil.
Min Ho dan Byung Cha belum sampai.

“Byung Cha sshi~!” Min Ho tiba-tiba bicara pelan.
“Ne?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!”
“Katakan saja Min Ho sshi…”
“Saranghae~!” Perkataan Min Ho tertahan.
“Min Ho sshi…Kau sedang bercanda? Aku…”
“Kau tidak usah menjawabnya sekarang! Aku hanya mengungkapkan perasaanku saja.”
“Min Ho sshi, aku suka padamu! Tapi aku tidak tau apakah ini cinta atau apa? Karna aku merasakan sesuatu yang lebih dari menyukaimu pada seseorang. Aku mencintaimu sebagai seorang teman. Teman dekat yang selalu ada untukku.”
“Nugu? Jung Ki hyung? Aisssssshhhh~ Kenapa aku harus menyebut namanya. Tidak mungkin kau menyukai pria egois seperti dia. Apa mungkin Sang Hyun? Ah…tidak mungkin! Lelaki manja sepertinya?Mana mungkin.” Senyuman kecil tersungging dari bibir Min Ho. Sedikit tidak enak, namun ia tetap tersenyum.
“Min Ho sshi~” Byung Cha memanggil merasa bersalah sambil menatap Min Ho.
“Kau tidak usah menatapku kasihan seperti itu Byung Cha sshi!” Min Ho mengalihkan pandangannya pada Byung Cha dan tersenyum lagi.
“Aniyo~” Byung Cha memalingkan pandangannya kedepan.

+++++++++++++++++++++++++++

@Hospital

“Sudah malam, kita pulang saja!” Jung Ki angkat bicara.
“Ah…Hyung aku disini dulu! Besok pagi aku akan pulang sendiri.” Sang Hyun menegakkan kepalanya.
“Tapi…”
“Aku akan menemaninya~” ujar Min Ho.
“Tidak usah hyung! Aku sendiri saja.”

Min Ho duduk di sofa sambil menyesap kopi miliknya lagi.

“Kau ingin tinggal juga?” Tanya Jung Ki tersenyum sinis pada Byung Cha.
“Aniyo~ Aku kan pekerjamu!” jawab Byung Cha sinis.
Malam itu Jung Ki dan Byung Cha pulang bersama. Byung Cha duduk di depan, karna ia sangat takut jika harus duduk sendiri dimalam hari.
“Kenapa kau duduk disini?” ujar Jung Ki yang melihat Byung Cha membuka pintu mobil dan duduk disampingnya.
Byung Cha hanya memandangnya keluar jendela mobil, tidak menghiraukan perkataan pria disebelahnya itu.
“Aisssssshhhhhh~” Jung Ki menghidupkan mobilnya.
“Heh~ Bunga hitam apa ini? Orang aneh…” Byung Cha tersenyum sinis memandang mawar hitam di depannya.
“Untukmu~” Jung Ki memonyongkan mulutnya menunjuk mawar tersebut sambil kembali menyetir.
Byung Cha hanya menatap Jung Ki heran.
“Waeyo? Kau tidak suka? Menurutku hanya mawar hitam itu yang cocok untuk wanita sepertimu! Heh…”Jung Ki tersenyum sinis mengejek Byung Cha.
“Aissssssssshhhh~ Pria gila!”
“Kau yang gila!”
“Tidak~! Aku tidak gila~ Kau yang gila.”
“Aku tidak mau lagi bicara denganmu!”
“Terserah padamu~!”
“Kau yang memancing!”
“Aiiiiiiiiissssshh~”

++++++++++++++++++++++++++++++++++

Dilokasi syuting Jin ki.

“Jin Ki sshi~! Aku masih belum bisa mengantarmu pulang hari ini.”
“Gwenchanayo menejer Jung! Aku bisa pulang sendiri.” Jin Ki membawa ranselnya dan memasuki BMW silver miliknya.
Malam itu sangat melelahkan baginya. Rasa kantuk yang begitu hebat mulai menyerang kedua kelopak matanya. Hari ini syuting yang melelahkan. Karena ia harus melakukan adegan aksi dengan membanting tubuhnya kesana kemari. Pusan memang bukan tempat yang dekat dari Seoul.
“Aisssssshhhhh~” Jin Ki membanting stirnya yang hampir oleng kesamping.

Ia berhenti sejenak. Setelah mencuci sedikit mukanya, ia melanjutkan perjalannya kembali.
Byung Cha terlihat pucat malam itu, ia terus memegang kepalanya.

“Byung Cha sshi? Gwenchanayo?” Jung Ki terlihat cemas.
Byung Cha hanya memegang kepalanya, dan sedikit meringis kesakitan.
Stir Jung Ki mulai sedikit oleng. Namun, dengan cepat ia membanting stirnya kekanan. Tangannya terus berusaha menenangkan Byung Cha yang kesakitan.
“Jung Ki sshi, kau lihat jalan saja!” Byung Cha berusaha mengingatkan Jung Ki.
Jung Ki membanting stirnya lagi kekanan.

Tapi, TEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT……..Klakson mobil di belakang mereka berbunyi keras. Cahaya samara-samar lampu di depan mereka menyilaukan pandangan Jung Ki yang menyetir. Jung Ki memasang kecepatan tinggi, dan mobilnya menabrak truk yang berjalan pelan di depan mereka. Mobil Jin Ki yang berada di belakang mereka pun menabrak body belakang mobil Jung Ki yang sudah terlebih dahulu menabrak truk di depannya. Ne~Kecelakaan beruntun.
Byung Cha membuka matanya, ia menatap Jung Ki yang sudah bergelimangan darah di sampingnya. Tangannya menggapai wajah Jung Ki yang hampir tertutup oleh darah. Namun, ia tak mampu menahan sakit yang di rasakannya juga. Hanya satu kata yang terucap olehnya.” Oppa~”

+++++++++++++++++++++++++++++++

@Hospital
Byung Cha yang di Bantu selang oksigen membuka matanya, matanya nanar menatap ruang putih di sekelilingnya. Ia membalikkan pandangannya pada seorang pria disampingnya dengan bantuan selang oksigen juga. Pria itu menatapnya, namun napas tersengal-sengalnya tak dapat di sembunyikan. Air mata Byung Cha mulai menetes.

“Oppa~” katanya lirih.
Jung Ki menatapnya sambil tersenyum kecil. Perasaan lega, sedikit menyelimuti dirinya. Ia masih dapat melihat wajah istrinya itu.
“Sa…ra..rang…hae~” Jung Ki terbata-bata, dan tersenyum meneteskan air matanya.
Mungkin ia merasa bahwa malam ini adalah malam perpisahannya dengan istrinya itu.
“Nado saranghae~” tangis Byung Cha mulai pecah.

Dokter beserta para suster dengan cepat melakukan pertolongan pada Jung Ki yang napasnya sudah sepenggal-sepenggal.
Byung Cha terus saja menangis, dan menutup matanya. Ia tak sanggup melihat Jung Ki yang menahan sakit, saat rohnya di tarik keluar dari jasadnya.

“Pasien telah meninggal pada pukul 03.00” Dokter meninggalkan ruangan.
Suster membuka selang oksigen dan seluruh alat bantu ditubuh Jung Ki.
“Andwae~!!!” Byung Cha berteriak.
“Jung Ki sshi~! Tatap aku lagi!” Tangis Byung Cha seketika menghanyutkan suasana sepi malam itu.

Jin Ki yang berada di sebelah tempat tidur Byung Cha, membuka sedikit tirainya. Ia menatap kisah dramatis tepat dimatanya. Ini bukan kisah drama yang sering ia perankan. Sebuah kenyataan, yang benar-benar ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

+++++++++++++++++++++++

Pergantian nama Go Byung Cha ke Shim Ah Ra

Pukul 10.00 pagi jenazah Jung Ki di semayamkan.

“Byung Cha sshi~ E…e…Ah Ra sshi! Kau harus tabah.” Sang Hyun memukul pelan pundak Ah Ra.
“Ah ra~a! Kau harus tabah! Hyung pasti sedih melihatmu lemah seperti ini!” Min Ho meletakkan kepala Ah Ra dipundaknya.
“Ne~ Aku tidak menangis! Kau lihat, air mataku sudah kering sejak tadi malam. Bagaimana bisa aku tidak mengingat suamiku sendiri!” Ah Ra menatap Min Ho dalam.
“Ah Ra~a! Kau harus tabah! Putri kecilku yang malang.” Eomma mencium puncak kepala Ah Ra.
Ah Ra hanya menatap sekilas makam Jung Ki lalu mendorong kursi rodanya meninggalkan makam.
Min Ho mengikutinya.

++++++++++++++++++++++++++++++++

@Hospital

Ah Ra masih harus menerima perawatan beberapa hari lagi dirumah sakit.
Ah Ra berjalan sendiri menuju kamarnya, ia tidak suka dipapah seperti orang sakit. Jin Ki yang akan keluar kamar menabrak Ah Ra. Kepala mereka berdua bertemu.

“Aisssssshhhhhh~” Ah Ra mengusap dahinya yang sakit.
Jin Ki tak mengucapkan apapun, ia hanya mengusap sedikit dahinya.
“NEO?!” Ah Ra terbelalak kaget.
Pria di depannya ini sangat mirip dengan suaminya, Song Joong Ki yang meninggalkannya secara tiba-tiba.
“WAEYO?!” Jin Ki menaikkan nada bicaranya. Karena kepalanya mulai terasa berdenyut.
Tiba-tiba tubuh kedua pasien rumah sakit itu rubuh, dan jatuh kelantai. Suster yang akan memberi mereka suntikan dengan sigap memanggil teman-temannya.
Beberapa jam kemudian Ah Ra terbangun dari pingsannya. Ia krasak-krusuk mencari barang terakhir yang di berikan Jung Ki padanya.
“Aisssshhhhhhh~” Ia terus saja mendengus. Suara kamar pun sedikit berisik karna ulahnya.
“Aisssssssssshhh~ Kau ribut sekali!” Jin Ki mendengus kesal sambil membuka lebar tirainya. “NEO?!” Jin Ki berteriak.
Ah Ra mendapatkan mawar hitam miliknya.Ia tidak peduli pada pria disebelahnya. Ia mencium mawar lusuh itu lembut.
“Wanita gila~! Black Flower? Heh…” Jin Ki tersenyum sinis melihat mawar hitam ditangan wanita di sampingnya itu.

….THE END….

FF Black Flower? Sampai disini. Kisah Jin Ki dan Ah Ra lanjut ke FF selanjutnya, kalau author mood nulis FF lagi. Hehehehe…Mian kurang puas. Atas segala kekurangan author mohon maaf sebesar-besarnya. Annyeong~^^,

_FF Oneshoot_“Purple Line” (Special to Hangeng, Jaebeom & Yoochun)

Title : “Purple Line”
Genre : Action
Author : Cha_Nichbum

Main Casts : Kibum
Nichkhun
Hangeng
Jaebeom
Yoochun
Kyuhyun
Taecyeon
Masson
T.O.P

Ni FF versi “SA PO LANG” film yang di Fanfic in!!Harap maklum, jika terdapat kesamaan karakter dan cerita tokoh.

Nichkhun POV

Aku. Nichkhun Buck Horvejkul.
Pekerjaanku memang cukup melelahkan, sebagai seorang polisi membuatku belum menikah sampai saat ini. Diusiaku yang ke-28 tahun. Hidupku hanya untuk mengabdi pada orang-orang yang membutuhkanku sebagai penjaga keamanan mereka.

Kulalui hari panjangku hanya dengan bekerja, menangkap makhluk-makhluk yang tidak berhati. Sampai suatu hari, kutemukan makhluk kecil yang membuatku berusaha memaknai hidupku yang singkat ini.

“Appa~”

Ne…Mason!
Makhluk bertubuh mungil yang memanggilku “appa” itu. Aku beruntung memilikinya, jari-jari mungilnya yang membelai wajahku setiap pagi. Mengukir senyuman dibibirku saat aku membuka mata.

Mason adalah anak yatim piatu yang kuangkat menjadi anakku. Orang tuanya dibunuh oleh manusia tak berhati yang bernama “T.O.P”. Ntah siapa nama asli lelaki biadab itu? Yang jelas setauku, orang-orang memanggilnya dengan sebutan seperti itu.

Walaupun pria itu banyak melakukan kesalahan, tapi belum ada satupun polisi yang dapat membuktikan kesalahan yang dilakukannya. Karena semua orang dari kalangan penjahat membantunya untuk menutupi kesalahan sang “KILLER MASTER” itu, bahkan terkadang polisi pun ikut andil dalam membebaskannya dari segala kebiadabannya itu.

End Nichkhun POV

Jaebeom membuka sumpitnya. Nichkhun yang berada disebelahnya hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya itu.

“Hyung~ Kau lapar sekali?” Tanya Nichkhun menyembunyikan tawanya sambil memasukkan mie goreng kedalam mulutnya.
Jaebeom hanya menatap tidak enak pada Nichkhun dengan pipinya yang gembung.
“Aissssssshhhhhh~” Jaebeom sedikit mendengus.
“Tadi aku baru dari rumah sakit. Sekaligus periksain kepalaku yang sering pusing ini.” Nichkhun menyesap jus jeruk miliknya.

“Hyung~ dokter bilang aku kena kanker.” ucap Nichkhun enteng.
“Oh…Dimana?”
“Otakku.”
“Bisa sembuh tidak?” Jaebeom masih mengunyah mie nya.
“Ntahlah.” Jawab Nichkhun sambil menyesap mie miliknya

Telepon Nichkhun berdering.

“Ne~ Appa segera kesana!”
“Hyung~ Aku jemput Mason dulu.” Nichkhun meninggalkan Jaebum sendiri.
“He’eh…” Jaebum menyuap mie terakhirnya.

Jaebum menghentikan makannya. Pikirannya yang tadi melayang ntah kemana. Sekarang sedang mengambil posisi stabil di otaknya.

“MWO? Kanker otak?!” Jaebum membanting sendoknya sehingga membuat bunyi yang menarik perhatian semua orang di restaurant itu.

Jaebum memang memiliki sifat yang sedikit tempramen, tapi di balik sikapnya itu ia memiliki hati yang baik.

=========================

@Hospital

T.O.P menunggui istri dan anaknya yang dirawat dirumah sakit.

“Ahjussi~ Kau sedih ya? Anakmu pasti sembuh.” Ujar Mason yang dari tadi melihat T.O.P mondar-mandir di depan pintu kamar pasien.
“Anak manis~” ujar seorang pria tegap dengan matanya yang terlihat lebih hitam karna goresan pensil mata yang melingkar di bawah kelopak matanya.
“Ini permen untukmu! Kau ambil yang hijau, dan untukku yang biru.”
“Siapa namamu anak manis?”

“Mason~a!!” Nichkhun menarik tangan Mason.

Ia menatap lelaki di depannya itu dengan tatapan merah padam.

“Jangan dekati anakku!” Nichkhun menggendong Mason dan membawanya pergi meninggalkan T.O.P

Nichkhun membawa Mason makan es krim di taman.

“Mason~a! Kau suka?”
“Ne~ Appa…Enak sekali! Aku sayang appa~ Saranghae!” Mason mencium pipi Nichkhun.
“Mason~a! Kau harus terus seperti ini! Jangan nakal ya! Walaupun appa tidak bersamamu lagi nanti!” Nichkhun mencium puncak kepala anaknya itu.
“Appa~” Mason memeluk Nichkhun erat.

=======================

@Keesokan harinya.

Nichkhun memasuki ruang kerjanya yang terletak di tengah ruangan. Ia adalah seorang pimpinan polisi.

“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” Nichkhun menaikkan alis sebelah kanannya.
“Nichkhun ssi~” Kyuhyun mencibir memeluk Nichkhun erat.
“Aisssssshhhhhh~ Kau kenapa Kyuhyun~a?!”
“Kami semua akan merawat anakmu!” ujar Hangeng, Yoochun, Jaebum, Taecyeon bersamaan.
“Heh Heh… Kalian ini…Aku masih belum mati! Tapi aku menghargai maksud kalian!” Nichkhun tersenyum tipis.

Suasana kantor menjadi hening sesaat.

“Aissssssshhhh~ Kita harus kerja habis-habisan hari ini! Tangkap semua manusia yang meresahkan itu! KKAJA~!” Nichkhun memecah suasana sambil mengomandoi semua anak buahnya.

==========================

===

Nichkhun CS memulai pekerjaannya. Bersembunyi di balik semak-semak, mengintip, mengintai, menjebak, memaksa. Pekerjaan mereka berakhir di sebuah hotel.

Hangeng masuk secara paksa kedalam sebuah kamar hotel, sepasang pria dan wanita yang belum terikat tampak bercumbu di atas tempat tidur. Pria botak yang melihat Hangeng masuk, langsung lari menuju jendela kamar dan melompat kebawah. Hangeng dengan sebuah pistol di tangannya menarik gorden dan menjatuhkan dirinya kebawah, bak TARZAN si manusia hutan.

Pria botak tadi menghidupkan sedan putih miliknya. Sedan putih itu melaju cepat dengan kecepatan tak terbaca, membuat mobil berputar-putar. Hangeng menembak salah satu ban. Mobil tersebut sedikit meronta dan sulit di kendalikan.

DUUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAARRRRRRRR~DUAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRR~DUUUUUUUUUUUUAAAAAAAAAARRRRRRRRR~ DUUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAARRRRRRRR~ DUUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAARRRRRRRR~ 5 buah peluru menembus kulit putih pria botak tadi. Tubuhnya menggelepar-gelepar di atas mobilnya.

Hangeng mendekati sedan putih itu. Dengan langkah tegas ia membuka pintu depan mobil. Sedikit darah segar muncrat ketangannya. Ia menghapuskannya ke atap mobil. Matanya tertuju pada sebuah koper disamping pria botak itu. Dengan kilat ia mengambil koper tersebut dan memasukkannya kedalam bagasi mobilnya.

“Kau tidak apa-apa hyung?”tanya Nichkhun yang tiba-tiba berada disebelahnya.
“Ah…Gwenchanayo!” jawab Hangeng gelagapan memegang bagasi mobilnya.

@Police office

“Kerja kita hari ini cukup memuaskan!”
“Yeaaaaaaaaaahhhhhhhhhh~!!! Yoochun dan Taecy mengepalkan tangannya.

“Tapi… Kita harus mencari pemimpin baru! Orang keras. Dengan kemampuan luar biasa dan taktik jitu sebagai penggantiku kelak!” Nichkhun kembali angkat bicara.

Semua yang berada di ruangan itu, hanya menundukkan kepala mereka.

=========================

Kibum POV

Aku. Kim Kibum. Aku menyebut diriku polisi. Tapi, orang-orang lebih mengenalku sebagai seorang berandalan yang membantu mereka menangkap penjahat.

Dengan singlet, celana jeans dan kacamata hitam, aku mulai beraksi menjelajahi seluruh penjuru kota Seoul. Aku lebih suka melakukan tugasku seorang diri. Lebih suka melakukan penyelidikan ketimbang menangkap penjahat. Karna aku tidak ingin tanganku kotor oleh darah para berandalan ingusan itu. Hahahahaha…

End Kibum POV

========================

Kibum memasuki ruang kerja barunya. Sepi…Cukup besar sebagai ruangan untuk tujuh orang polisi didalamnya. Matanya liar melihat satu-persatu celah hening ruangan tersebut. Kedua matanya terhenti pada sebuah meja. Meja retak, yang kacanya hampir jatuh kebawah.

“NEO?! Nuguseyo?!” Jaebum memasuki ruangan, menghentikan langkahnya sambil menunjuk kearah muka Kibum.

“Annyeonghaseo~ Choneun Kim Kibum imnida! Anggota baru di kepolisian Kang Nam.”
“Oh…Kau!” Jaebum sedikit merendahkan nada bicaranya.
“Mohon bantuannya!” Kibum membungkukkan badannya.
“Annyeong~” Jaebum mendekati kursi dengan meja kaca retak itu.

“Oh…Kau sudah datang!” Nichkhun datang tiba-tiba.
“Oh…Annyeonghaseo~” Kibum membungkukkan badannya lagi.

Pukul 07.00

“Karena semua sudah berkumpul! Aku ingin memberitahukan pada kalian anggota baru kita.” Nichkhun berdiri disamping Kibum.
“Annyeonghaseo! Choneun Kim Kibum imnida~Bangapseumnida!” Ujar Kibum lagi sambil membungkukkan badannya.

“Hyung! Bagaimana pendapatmu? Apa dia bisa menjadi pengganti Nichkhun kelak?” Taecyeon berbisik di telinga Yoochun.
“Mollaso~ Kurasa, tidak ada yang bisa menggantikannya. Lihat bocah itu! Apa Khunnie yakin dengan pilihannya?”
“Molla~”

Kepolisian Kang Nam mulai mengerjakan pekerjaan mereka pagi itu. Bunyi tuts keyboard komputer memecah suasana hening kantor. Tak terdengar suara manusia, hanya tuts keyboard.

Pukul 18.30

“Kau ingat apa yang harus kita lakukan?” Nichkhun memperkecil volume suaranya.
“Ne~” jawab Kyuhyun pelan.
“Baiklah! Kita beraksi. Tepat pukul 07.00 malam ini! Kkaja~ ” Nichkhun menambahkan.

Nichkhun, Yoochun, Jaebum, Taecyeon, Kyuhyun dan Hangeng melangkahkan kaki mereka dengan mantap menuju pintu keluar. Kibum yang baru memasuki ruangan, menatap heran keenam rekannya itu.

“Kibum ssi~ Untuk malam ini, kau tidak perlu ikut! Masa tugasmu baru dimulai 2 hari lagi!” Nichkhun berdiri tepat dihadapan Kibum dan lalu begitu saja bersama rekannya yang lain.

=======================

Hangeng berlari mengejar mangsanya dengan ganas. Sang mangsa dengan baju bunga-bunga ala hawaian berlari kacau mencari celah persembunyian. Ia berlari menuju atap gedung yang bertingkat 7 itu. Dengan sigap Yoochun menghadang dari arah depan. Namun, pria bertubuh kecil itu dapat meloloskan diri.

@Lantai 7

“NEO?! HENTIKAN LANGKAHMU! ATAU KUTEMBAK!” Ujar Nichkhun sambil mengacungkan pistolnya keatas.

Namun mangsa mereka itu tetap saja berlari dengan sekuat tenaganya. Spontan, peluru pistol Taecyeon melayang kearahnya. Tapi tak sedikitpun menyetuh kulit pria itu.

“Aisssssssssshhhhhhh~ BERHENTI KAU!” Jaebum mulai mengejar.

Ya! Satu tembakan tepat mengenai lengan pria mungil itu.

Kyuhyun tersenyum kecil pada Yoochun. Yoochun melingkarkan jari telunjuk dan jempol kanannya pada Kyuhyun sambil mengedipkan mata.

Sedikit kesakitan, namun mangsa tersebut tetap saja berlari dan menumbangkan bak-bak sampah disekelilingnya. Hangeng, Tecyeon, Jaebum dengan kilat melewati bak sampah yang menghalangi mereka itu. Tubuh sixpacks mereka semakin terlihat jelas dari balik kemeja mereka yang basah oleh keringat.

Tepat di tepi gedung, sang mangsa menghentikan langkahnya.

“Heh~ Ayo loncat!” Nichkhun tersenyum sinis.

Sang mangsa hanya menatap keenam polisi itu sedikit ketakutan. Ia merentangkan tangannya kebawah. Sedikit demi sedikit, ia menjinjitkan kakinya kebelakang sambil beberapa kilas memandang kearah belakang.

Mangsa mereka tadi pun menjatuhkan dirinya diiringi dengan suara tembakan dari pistol Nichkhun. Senyuman tipis tersungging dari bibir Nichkhun, Yoochun, Hangeng, Taecyeon, Kyuhyun, dan Jaebum. Senyuman kepuasan. Satu lagi, kaki tangan T.O.P mati ditangan mereka. Tapi, bukti kesalahannya belum juga ditemukan.

Dari luar gedung, Kibum menatap mayat yang jatuh tepat dimatanya. Matanya melancarkan pandangan tidak senang, sambil memandang keatas. Kearah Nichkhun CS. Ia mulai melangkahkan kakinya memasuki gedung. Semakin lama langkahnya semakin cepat dan akhirnya berlari.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?! APA MEMANG HARUS DENGAN MEMBUNUH? HAH?!” Muka Kibum memerah, kemarahannya mulai meledak-ledak.
“Sudahlah~ Kau tidak mengerti!” Ujar Yoochun menepuk pundaknya.
“APA?! APA YANG TIDAK KUKETAHUI?! KALIAN MEMBUNUH ORANG! APA ADIL 1 LAWAN 6?!HA?!” kepalan tangan Kibum mulai menyentuh pipi Nichkhun.
“AAAAAIIIISSSSSHHHHH~! KAU!” Jaebum mengepalkan tangannya ingin memukul orang yang bertindak kurang ajar pada pimpinan mereka itu.

Nichkhun memegang pundak Jaebum, mengisyaratkan padanya untuk berhenti.

“Kau tidak mengerti! Apa kau tau? Berapa banyak orang tanpa dosa yang ia habisi nyawanya? Kau tau?! Berapa banyak orang yang teraniaya karna ulahnya?! Berapa banyak anak yang kehilangan kasih sayang orang tua karnanya? HA?! APA KAU TAU ITU?!” Nichkhun menaikkan nada bicaranya sambil menghapus darah segar yang mengalir dibibir kanannya.

Kibum berdiri lemah. Kata-kata Nichkhun tadi begitu menghancurkan pikiran buruknya mengenai keenam rekannya itu.

===============================

@Jumunjin Beach

“Ahjussi~ Kembalikan balonku!” Mason menginjit-injitkan kakinya ingin mencapai balonnya yang diambil Kyuhyun.
“Hyung~ Aku semakin yakin kalau bocah itu tidak bisa menjadi pemimpin kita!” ujar Taecyeon pada Yoochun yang sedang tertawa melihat ekspresi Mason yang meminta balonnya.
“Kurasa begitu!” jawab Yoochun singkat. Ia memulai akal busuknya, membuang balon tadi keair. Balon itu pun mulai mengikuti arah angin menuju tengah pantai.
“Ahjussi!!” Mason ngambek sambil berjongkok menggembungkan pipinya.
“Ayo kejar bolanya! Hahahahaha…” Ujar Jaebum.

Dari kejauhan.

“Nichkhun ssi, diantara anak buahmu itu. Siapa yang paling hebat?” Kibum memandang rekan-rekannya itu dari jauh.
“Heh…Semuanya hebat! Aku tidak bisa memilih, menurutku mereka orang-orang hebat!” jawab Nichkhun sambil melambaikan tangannya pada Mason yang berdiri dari jongkoknya.

===============================

Telepon kantor di kepolisian Kang Nam berdering.

“Yeoboseyo~ KAU SIAPA?!” Jaebum menaikkan nada bicaranya.
“Kembalikan uang itu, jika kalian ingin selamat.” Ujar suara dibalik telepon itu sambil memutus teleponnya.
“YEOBOSEYO!!!!”

“Siapa hyung?” Kyuhyun mendekati Jaebum.
“Uang itu!”
“Ingat! Jangan katakan masalah ini pada Nichkhun. Cukup kita saja yang mengetahuinya.” Jaebum memperkecil volume suaranya.

“Kalian sedang apa?” Nichkhun yang datang bersama Kibum memandang rekan-rekannya itu heran.
“Oh…Aniyo!” Jaebum mengibas-ngibaskan tangannya.

“Ya! Kita harus bekerja! Mulai selidiki T.O.P lagi!” Nichkhun memukulkan kedua telapak tangannya.
“Kali ini kita harus bertindak lebih nekat!”
“Nichkhun ssi~ Apa kau yakin akan terus melakukan penyelidikan terhadapnya? Kita sudah menyelidikinya bertahun-tahun. Tapi apa? Kita belum mendapat bukti apapun!” Kyuhyun memotong perkataan Nichkhun.
“Wae? Kau takut? Sebagai seorang polisi, mati bergelimangan darah lebih terhormat daripada harus dikejar-kejar penjahat!”

“Ne~ Kau benar pimpinan!” ujar Taecyeon memberi hormat pada Nichkhun.
“Kita harus menangkap manusia biadab itu! Kalian tenang saja, aku tidak akan membiarkan anak buahku tersentuh sedikit saja olehnya! Aku akan melindungi kalian.” Nichkhun menepuk pundak Kyuhyun pelan.

Kibum yang masih berdiri di depan pintu, hanya tersenyum kecil melihat kejadian itu.

========================

“Honey~ Anak kita sudah bisa menggerakkan tangannya! Bisakah kau segera kerumah sakit!” ujar suara wanita dari balik telepon T.O.P
“Iya sayang~ Aku akan segera kesana setelah urusanku selesai!” T.O.P menutup teleponnya.

==========================

Anak buah T.O.P mulai membuat keonaran lagi, mereka membakar salah satu BANK besar di Seoul.

“Aissssssshhhhhhhh~ Pria itu! Pasti dia yang melakukannya.” Hangeng mendengus keras.
“Aku akan segera menghubungi kantor pusat! Hangeng dan Yoochun Hyung ikut aku! Kalian berdua ambil persediaan senjata! Ini surat perintahnya!” ujar Nichkhun sambil memberikan sebuah amplop pada Jaebum dan Kyuhyun.
“Dan kalian berdua! Tetap disini!” Nichkhun melanjutkan perintah pada Kibum dan Taecyeon.

Dengan mobil sedan hitamnya Nichkhun CS melaju kearah barat. Jaebum berlari ke arah mobil sedan putihnya. Beberapa menit kemudian, Jaebum tiba dengan mobilnya. Kyuhyun langsung membuka pintu disamping Jaebum dan masuk kedalam.

“Kami pergi dulu kawan!” Kyuhyun melambaikan tangannya keluar jendela.
Sedan putih itu melaju kencang.

Kibum dan Taecyeon berjalan membelakangi mobil yang melaju tadi sampai bunyi dentuman keras mengusik telinga mereka.

TUUUUUUUUUUUUUUUUUUUBBBBBBBBUUUUAAAAAAAAAAMMMMMMMMM~!!!!! Mata mereka mulai mengarah kesumber bunyi itu. Ne~! Sedan putih yang ditumpangi Jaebum dan Kyuhyun terbakar. Api menjalar cepat menghabiskan semua body mobil.

Spontan, Kibum dan Taecyeon berlari kearah mobil yang ditumpangi rekan mereka itu.

“HYUNG~HYUNNIE~A!!!!!” Taecyeon berteriak keras sambil berlari, air matanya mulai mengalir deras.

Pemadam kebakaran berusaha memadamkan kobaran api yang besar itu agar tidak menjalar kearah lain. Api pun bisa di padamkan. Kedua jasad penumpang sedan putih itu di tandu kemobil ambulance.

“Jaebum hyung~Hyunnie~a!” Taecyeon meneteskan air matanya sambil mengepalkan tangannya keras. Giginya bergeretak keras. Sehingga bunyinya terdengar keluar. Kibum yang disampingnya menepuk bahu Taecyeon pelan.

==============================

“Nichkhun~a! Jaebum hyung dan hyunnie terbunuh!” Kibum menelepon Nichkhun
“MWO?!” Nichkhun menggenggam teleponnya erat.

Setengah jam kemudian, Nichkhun, Yoochun, dan Hangeng tiba dirumah sakit.
Nichkhun memandangi wajah Kyuhyun dan Jaebum yang sudah hangus terbakar. Air matanya mulai menetes. “Kalian tenang saja, aku tidak akan membiarkan anak buahku tersentuh sedikit saja olehnya! Aku akan melindungi kalian.” Kalimat itu merasuki benaknya. Ia merasa gagal.

“Aku memang tidak pantas di sebut pimpinan!” Nichkhun meneteskan air matanya dan mengepalkan tangannya kuat.
Hangeng yang berada di samping kanannya, menepuk bahu Nichkhun pelan.

================================

Mereka melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit. Dengan semangat baru yang sangat menggebu-gebu untuk menghancurkan manusia biadab yang bernama T.O.P itu.

“Kita tidak boleh menyerah! Lanjutkan misi kita!” Nichkhun berjalan tegap menatap kedepan.

Kibum, Yoochun, Hangeng, dan Taecyeon mengikuti.

“Aissssshhhh~ Kalau jalan lihat-lihat!” Taecyeon memukul kepala seorang anak laki-laki yang umurnya sekitar 17 tahun yang menabraknya.
“Mianhamnida~Mianhamnida~” Anak lelaki tadi berjalan takut dengan sebuah kamera yang berusaha disembunyikannya dibalik bajunya.

Yoochun menatapnya aneh.

“Hey~ Kau! BOCAH!” Yoochun berteriak memanggil anak tadi.

Anak tadi bukannya berhenti, malah lebih mempercepat langkahnya.

“HEY KAU! HENTIKAN LANGKAHMU BOCAH!” Yoochun mengejar anak itu cepat.

Tertangkap!
”Perlihatkan kamera itu padaku!”Yoochun merampas kamera milik anak itu.
“Ah…Oh…Andwae!”
“Yoochun ssi, ada apa?” Hangeng memegang anak tadi.
“Perlihatkan kamera itu!”

===============================

“Satu bukti kita dapatkan! Kau akan hancur T.O.P!” Nichkhun tersenyum sinis melihat video rekaman itu.

Divideo tersebut terlihat T.O.P meletakkan bom kedalam mobil Jaebum. Pada menit ke 10, terlihat T.O.P memencet tombol remote ditangannya. Terdengar bunyi ledakan, dan mobil Jaebum yang hangus.

“Nichkhun ssi, Aku mau menemui anakku sebentar. Hari ini kan hari ayah. Aku ingin menemuinya sebentar.” Yoochun meminta izin.
“Tapi…Saat ini T.O.P sedang ditahan, diluar sana anak buahnya pasti tidak tinggal diam. Keselamatan kita terancam jika kita berjalan sendiri-sendiri.” Nichkhun menolak.
“Nichkhun ssi…Hanya kali ini saja. Jebal…”
“Baiklah! Kau akan ditemani Hangeng hyung!”

“Nichkhun ssi~! T.O.P di bebaskan! Sekarang kau di curigai mencuri uangnya! Kepala pusat sedang mencarimu!” Kibum terengah-engah.
“MWO?!”
“Nichkhun ssi~ Kau harus segera pergi! Kau tidak boleh tertangkap! Misi kita belum selesai!” Ujar Taecyeon.

==========================

“Kau harus segera menyelesaikan kasusku ini! Aku ingin kerumah sakit dulu!” T.O.P berjalan keluar dari jeruji besi yang mengurung tubuhnya beberapa jam lalu.
“Heh~!” T.O.P tersenyum sinis.

===========================

Sementara itu di taman.

“Aboji~ Kau makin kurus! Apa kau makan dengan baik?” Byung Cha mencubit pipi Yoochun.
“Andwae~ Sakit! Aboji baik-baik saja. Bagaimana sekolahmu?” Yoochun mengusap lembut kepala anak perempuannya itu.

Hangeng hanya berdiri di gerbang taman sambil memperhatikan kisah dramatis antara ayah dan anak itu. Ia berjalan menuju telepon umum yang berada di seberang jalan.

“Yeoboseyo eomma! Bagaimana keadaan appa? Apa pria tua itu sudah mati?” Tanya Hangeng sembarang.
“Oh…Kau! Hankyung~a! Kau tidak usah peduli lagi padanya. Bukankah memang itu keinginanmu!”

Hangeng memutuskan teleponnya. Ia mulai meneteskan air mata sambil terus mengunyah permen karet di mulutnya.

“Aboji~ Ini hadiah untukmu! Aku pergi dulu ya. Sudah malam. Jaga dirimu.” Byung Cha memberikan sebuah kotak kecil pada Yoochun sambil mencium pipi ayahnya itu dan beranjak pergi.

Sesosok lelaki dengan pakaian serba hitam mendekati Hangeng, pisau mengkilat yang di bawanya sedikit menyilaukan mata. Dan…

“Ah….” Hangeng terjatuh ke tanah. Tubuhnya bersandar pada diding sambil memegang lehernya yang tersayat.

Pria misterius tadipun mendekati Yoochun yang sedang membuka hadiahnya.

Yoochun melihat hadiah yang baru saja ia terima, sambil menerawang kecahaya bulan. Cuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuussssssssssss….Beberapa tusukan di perut dan dada. Tubuh Yoochun pun menggelepar di tanah. Tubuhnya menegang. Setetes air keluar dari kelopak mata sebelah kanannya.

=====================

Kibum dan Taecyeon mencari Yoochun dan Hangeng. Mereka akan mulai bekerja lagi. Sebuah misi penting yang harus diselesaikan secepatnya. Langkah mereka semakin cepat, saat melihat Hangeng yang hamper terkapar.

“Hyung~ Katakan sesuatu!” Kibum memegang leher Hangeng agar ia dapat berbicara.
“Eh…Selamatkan pimpinan! Dia tidak tau apa-apa! Kami yang mengambil uang T.O.P! Uang untuk merawat anaknya kelak! Uang itu ada di bagasi mobilku. Eh…” Suara Hangeng mulai hilang.

“Hyung~ Hyung~ Buka matamu! Katakan sesuatu hyung!” Taecyeon mengguncang-guncang tubuh Hangeng.
“Kau juga mengetahui hal ini?” Kibum menatap tajam pada Taecyeon.
“Eh…” Taecyeon gelagapan.

====================

“Yeoboseyo~ Taecy! Dimana posisi kalian?” suara Nichkhun dari balik telepon.
“Hyung…Hyu…Hyung…Yoochun hyung dan Hangeng hyung terbunuh.”
Nichkhun mematikan teleponnya. Tangannya mengepal keras. Giginya bergeretak semakin kuat.

“T.O.P!! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU HIDUP! AKU AKAN MEMBUNUHMU DENGAN TANGANKU SENDIRI!” Air mata kebencian mengalir dari kedua kelopak mata Nichkhun. Tangannya mengepal lebih kuat lagi. Dan…Bruuuuuuuuuukkkkkkk!!! Meja kaca disampingnya pecah seketika.

=====================

“Kita harus bertindak cepat! Taecyeon ssi! Taecyeon ssi!” Kibum gelagapan mencari Taecyeon.

Taecyeon berjalan sendiri di bawah remang-remang lampu jalan. Tatapannya tajam, tangannya mengepal kuat. Tak ada lagi pikirannya selain menemukan T.O.P.

Sementara itu, Kibum berlari mencari rekannya itu. Sambil terus memanggil-manggil “Taecyeon~a!!”.

“Taecyeon~a!! KAU MAU KEMANA?”

Sebuah truk melaju kencang kearah Taecyeon yang berjalan cepat.

“TAECYEON~A!!!AWAAAAAAASSSSSSSSSSS!!” Kibum kembali berlari mengejar Taecyeon yang menggelepar hebat ditanah. Tangan, kepala dan kaki sebelah kanannya remuk. Ia merenggang nyawa seketika tepat dihadapan Kibum.

“TAECYEON~A!!!!!!!!” Kibum memegang tubuh rekannya itu dan berteriak sekuat-kuatnya.

==========================

Kibum berlari menuju kantor pusat.

“Hoejangnim~ Dengarkan aku! Semua rekanku terbunuh! Sekarang nyawa pimpinan kami juga terancam! Kau tidak bisa menjadikannya tersangka! T.O.P memang seorang pembunuh! Kau tidak boleh melepaskan pria biadab itu!”
“Aku tidak bisa! Ini sudah keputusan dari pihak kepolisian. Polisi yang bersalah juga harus dihukum. Yang membunuh rekan-rekanmu juga sudah menyerahkan diri.” Tuan Kim meninggalkan Kibum begitu saja.

“Hoejangnim~” Kibum memanggil.
“Aku akan menyelesaikan kasus ini sendiri! Aku berhenti!Aku tidak ingin menjadi polisi kaku seperti kalian!” Kibum meletakkan pistol dan kartu anggota kepolisiannya di atas meja dan pergi dengan perasaan marah, kecewa, bercampur aduk. Ia berjalan mantap tanpa embel-embel polisi yang selama ini melekat ditubuhnya.

===============================

Nichkhun berjalan menuju kediaman T.O.P. Dengan langkah tegapnya, tegas dan berwibawa. Matanya merah padam. Badannya hanya terbungkus oleh kemeja putih yang membentuk lekuk tubuhnya.

“T.O.P!!!!KELUAR KAU!!!” Nichkhun berteriak dari luar pintu.
“Heh~ Suruh dia masuk!” T.O.P tersenyum sinis menyuruh anak buahnya membuka pintu.

Nichkhun memasuki ruangan.

“Ini! Aku bawa uangmu!” Nichkhun melempar koper yang dibawanya dan membuka isinya. Satu tembakan mengarah pada T.O.P.

Dengan sigap T.O.P menangkis tembakan yang dilancarkan Nichkhun padanya.

“Heh~ Bocah ini! Kau ingin menipuku?” T.O.P tersenyum sinis dan melempar kertas-kertas yang di bawa Nichkhun sambil memberi isyarat pada anak buahnya untuk menyerang pria di depannya itu.

=======================

“T.O.P~!Aku bawa uangmu!” kata Kibum dari balik telepon.
“Heh…Kemarilah!” jawab T.O.P sinis.
“Bagaimana temanku?”
“Aku tidak tau, apakah dia masih hidup hingga kau sampai!”

Pria berbaju hitam dengan pisau mengkilat ditangannya berjalan mendekati Kibum. Sadar dengan pria yang mendekatinya, Kibum pun mengeluarkan besi di belakangnya. Dengan hati-hati, ia melangkahkan kakinya menuju pria di depannya itu.

Pertarungan sengitpun terjadi antara Kibum dan pria setan itu. Aksi saling pukul memukul, bertarung pisau dan besi, sampai aksi lempar melempar. Akhirnya sang pembunuh bayaran itupun meregang nyawa, dengan beberapa tusukan yang dilancarkan Kibum padanya. Pisau yang ia pegang berbalik arah dan menghilangkan nyawanya sendiri.

Kibum tersenyum sinis dengan matanya yang berkaca-kaca merah. Tangannya masih memegang pisau yang sudah bergelimangan darah itu. Air mukanya tampak sangat marah. Ia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Membunuh orang.

Ia mulai melangkahkan kakinya menuju kediaman T.O.P

“T.O.P!!!!!!AKU DATANG!!AKU BAWA UANGMU!! DIMANA KHUN?” Kibum melempar koper yang berisi uang yang ia ambil dari bagasi mobil Hangeng.

T.O.P hanya memandang sekilas pada Nichkhun yang lemah dengan tangan tergantung di atas. Perutnya banyak mengeluarkan darah. Ia hanya mendesis beberapa kali, menahan sakit diperutnya.

“KAU!!!!” Kibum mulai menyerang lawannya itu.

Kibum melancarkan serangan dengan pisau yang ia bawa. Namun, serangan Kibum itu dapat ditangkis oleh T.O.P. Pertarungan berlangsung lama, keringat mulai mengucur dari tubuh Kibum dan T.O.P. Telepon yang berasal dari saku T.O.P berdering. T.O.P berusaha mengangkatnya, walau dalam posisi tidak aman. Sampai saat itu, Kibum berhasil mengunci gerakan T.O.P dengan melingkarkan tangannya dibahu T.O.P. Terdengar suara lembut dari balik telepon. Melihat itu, Kibum sedikit memperlonggar kepitannya.

“Sayang~ Aku dan anak kita sudah ada di bawah! Apa aku harus keatas sekarang?”
“Ah…Kau tunggu disitu saja. Aku akan turun sebentar lagi.”

Kibum langsung mengepit T.O.P erat, telepon yang di pegangnya pun terlepas, dan terinjak oleh Kibum. Dan mematikan ponsel itu dalam sekejap.
Dengan ganas Kibum mengangkat pria bermata hitam itu keatas, lalu diputar-putarnya dan melemparkannya ke aquarium kaca di sudut kanan jendela. Seketika T.O.P terdiam, matanya tertutup.

Napas Kibum terengah-engah, ia membuka air mineral yang ada di meja disebelah aquarium itu. Nichkhun yang terikat pun mulai berbicara.
“Heh…Apa kau akan membiarkanku tetap tergantung begini?” Kibum hanya tersenyum kecil sambilmeminum airnya.

Tiba-tiba tubuh T.O.P bergerak dan mendorong Kibum, keseimbangannya tak terkendali. Tubuhnya ambruk dan memecahkannya kaca di belakangnya. Tubuhnya jatuh kebawah dan menimpa sedan hitam di bawahnya, dengan posisi telentang dan kepala bagian belakangnya mengeluarkan darah segar seketika. Kibum menghembuskan napas terakhirnya, air matanya mulai menetes keluar. Ntah air mata apa? Kebencian? Kesakitan? Atau mungkin air mata kegagalan.

T.O.P melihat kebawah, ia melihat mobil yang ditimpa oleh tubuh Kibum. Mobil dengan atap peyote dan kacanya yang pecah berantakan.Matanya tercekal pada plat mobil di bawah tubuh Kibum itu. “1589” Manusia di mobil itu tak merespon sedikitpun kejadian yang dialaminya.

T.O.P menjatuhkan tubuhnya kelantai, air matanya mulai menetes deras. Mulutnya terbuka, lidahnya kelu. Ia telah menghilangkan nyawa anak dan istrinya. Bunyi serene polisi memecah keheningan malam itu. Suara polisi mulai terdengar ribut dari bawah gedung berlantai 7 itu.

=========================

Nichkhun menatap Mason yang sedang melemparkan batu kelaut. Cuaca hari itu sangat cerah, bibirnya sedikit tersungging. Memperlihatkan senyuman tipisnya. Ia melambaikan tangannya kearah Mason yang sedang memandangnya. Namun, tiba-tiba tubuhnya jatuh ketanah. Ia memegang kepalanya yang mendenyut hebat. Sakit tak tertahankan. Darah segar mengalir dari hidungnya. Ia berusaha duduk, dan mengusap hidungnya.

“Appa~”

Nichkhun melambaikan tangannya pada Mason. Dari kejauhan, ia melihat keenam sahabatnya melambaikan tangan padanya sambil tersenyum manis. Air matanya mulai menetes, ia mengusapnya berbarengan dengan pegangan kepalanya yang semakin sakit.

Bagi yg baca~ Mian kepanjangan…

“Back sound Purple Line DBSK”

Furareru koto sae dekina itte jishin ankini tora warete
Mi ugoki hitotsu torenai toki mo au

Really wanna touch myself
Kiseki wo negatte itte mo

Jibun no kokoro ga tsuyoku naku sha tsusumenai right now
Purple line let me set on my world (my world)

Dare mo arui takoto nai this way
Yume wo negai de ikikita wo shikashi tsusuketeru
Jibun rashiku My Progression
Tsuyoi kimochi wo motte koedemiseru
Jonetsu no purple line

Kirei na wo sutabi koraga saigo hou ni made shimau kedo nikenai sa
Bokuga seichoushi hayaku dameno ga te dato
Jibun ni kikasenagara nori koede yuke right now
Purple line let me set on my world (my world)

=============THE END=============

Black Flower 1/2

Title : “ Black Flower? ”
Genres : Romance, Comedy
Author : Cha_Nichbum

Casts : Song Joong Ki
Choi Min Ho
Park Sang Hyun
Go Byung Cha a.k.a Shim Ah Ra
Kim Yesung
Cho Eun Hee
Ah Ra eomma

“Baiklah~! Aku akan meninggalkan rumah ini! KAU PUAS?!”
“Mwo?! BAIKLAH~JANGAN PERNAH PERLIHATKAN BATANG HIDUNGMU DI RUMAH INI LAGI~!!!
“Aisssshhhhhh~”

Ah Ra membawa kopernya, dengan bersungut-sungut meninggalkan apartement yang telah ia huni bersama Song Jung Ki selama 1 tahun itu.

“Aisssssshhhhh~Aku lupa!” Ah Ra memukul kepalanya dan berlari dengan cepat membuka pintu.
“Aissshhhh~ Wanita ini! KAU MAU APA LAGI?”
“Aku lupa membawa dompetku!” Ah Ra dengan langkah cepat segera meninggalkan rumah itu lagi.
“HEI~!WANITA GILA…JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI~” Jung Ki berteriak di depan pintu.

Tanpa memperhatikan perkataan suaminya itu, Ah Ra terus saja berlari.

“DASAR WANITA GILA~! Dia pikir hidup diluar itu enak? Keluargamu juga tidak ada di Korea. Sampai orang tuamu pulang ke Korea, aku tidak akan mencarimu! PERGILAH~! Heh~” Jung Ki tersenyum sinis sambil menutup pintunya kembali.

+++++++++++++++++++++++++++++++

“Dasar pria sinting! Kenapa aku harus menikah dengan orang egois seperti itu! Kalau bukan karna eomma, tak akan pernah aku mau menerima pria sinting itu! Aisssssssshhhhhh~ Tapi,aku harus kemana? AIIIIIIIIIISSSSSSSSHHH~” Ah Ra mengacak-acak rambutnya.

Dengan langkah gontai, ia terus menyusuri jalan raya yang sepi kala itu. Tak terlihat satupun mobil disana.

“Kenapa malam ini sepi sekali?” Ah Ra mulai mengangkat wajahnya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH………..”

+++++++++++++++++++++++++++++++++++

“Kemana wanita gila itu? Aiiisssssshhhhhh~ Untuk apa aku mempedulikannya! Dia bisa mengurus dirinya sendiri.” Jung Ki menutup mukanya dengan selimut.

@Hospital

“Bagaimana keadaannya dok?”
“Pasien belum siuman, mungkin karna benturan di kepalanya akibat kecelakaan tadi yang mengakibatkan tingkat kesadarannya melemah.”
“Apakah bisa disembuhkan dok?” Eun Hee berbisik.
“Kita lihat saja~” Dokter meninggalkan Eun Hee yang panik di depan pintu kamar.
“Aissssssshhhhh~Kenapa aku bisa menabraknya! Cho Eun Hee~ Malang sekali nasibmu!” Eun Hee mengacak-acak rambutnya.

Eun Hee terdiam sejenak, sambil mondar-mandir didepan pintu kamar.

“Hah~ Apakah aku harus meninggalkannya? Tidak mungkin, pasti polisi akan menangkapku, aku akan jadi buronan!AISSSSSSSSSSSSSSHHH~ Aku tidak mau dipenjara.” Eun Hee tersadar dari lamunannya.

+++++++++++++++++++++++++++++++

@Satu bulan kemudian.

Let’s go crazy (crazy) baby let’s go crazy (crazy)
Oh baby let’s go crazy (crazy)
It’s so easy and let’s go crazy again oh!
Let’s go crazy you gotta show oh baby
Let’s go crazy go with the flow and maybe
Not so hasty takin’ it slow it’s so easy and let us go crazy again
Let’s go crazy you gotta show oh baby
Let’s go crazy go with the flow and maybe
Not so hasty takin’ it slow it’s so easy and let us go crazy again
Let us go crazy again……

Jung Ki, Sang Hyun, dan Minho mengakhiri lagu mereka.

“Oppa~ Saranghae…”
“T.H T.H T.H ~THREE HANDSOME NAMJA~!Yey…yey…yey…Saranghae oppa~!”

Sang Hyun melempar kaus yang dipakainya. Terlihat badannya yang basah oleh keringat. Suara penggemar mereka pun semakin riuh.

“Kkajja~!” Jung Ki mengomandoi kedua temannya meninggalkan panggung.

+++++++++++++++++++++++++++++++

“Nona Eun Hee?”
“Ne~”
“Pasien sudah sadar.”
“Jincha?! Akhirnya~ Penantianku sebulan ini, berakhir juga.”

Eun Hee buru-buru memasuki kamar.

“Anda sudah sadar nona?”
“Kau siapa? Aku ada dimana?”
“Aku Cho Eun Hee, orang yang membawa anda kerumah sakit ini.”
“Aku siapa?”
“Mwo?!” Eun Hee membelalakkan matanya.
“Pasien mengalami amnesia total. Untuk sementara waktu jangan memaksanya untuk mengingat apapun, karena akan menghambat proses penyembuhan.”
“Apa dokter? Hah~ Bagaimana aku bisa membuatnya mengingat sesuatu~ Mengenalnya saja tidak! Aisssssssshhhh~” Eun Hee membenamkan wajahnya kekasur.
“Apa kau mengenalku?” Ah Ra bertanya polos.
“Hah~Hah~AISSSSSSSSSSHHHHHHHH!!” Eun Hee mengacak-acak rambutnya.

+++++++++++++++++++++++++++++
@Kantor Melon entertainment.

“Bagus sekali~ Hanya dalam waktu 1 bulan, album kalian sudah bisa menguasai pasar! Aku punya hadiah untuk kalian bertiga~ Sebuah rumah mewah! Kalian bertiga akan tinggal disana, sekaligus untuk mempermudah pekerjaan kalian. OK?”
“Ne~ Terserah padamu!” Min Ho meninggalkan ruangan.

Jung Ki mengikuti dari belakang.

“Ya~ Terserah padamu sajalah…Menejer Kim Ye Sung~!” Sang Hyun mengikuti mereka.
“Ne~ Baiklah! Terserah padaku~” Yesung mengangkat bibir kanan bagian atas.

+++++++++++++++++++++++++++++

@Eun Hee’s House

“Kau memang tidak mengingat apapun?” Eun Hee mendekatkan wajahnya pada Ah Ra.

Ah Ra memegang kepalanya, berusaha mengingat kembali siapa dirinya. Terlihat raut kesakitan di wajahnya. Namun, ia terus memegang kepalanya dengan keras.

“Sudahlah~ Kau tidak usah memaksakan! Aku tidak akan bertanya lagi padamu~ Mulai sekarang namamu adalah…Ehm…Byung Cha~ Go Byung Cha” Eun Hee memukul pundak Ah Ra.
“Go Byung Cha?”
++++++++++++++++++++++++++

“Untuk part berikutnya~ Perubahan nama, Shim Ah Ra menjadi Go Byung Cha”

@Seminggu kemudian.

“Hyung~!!!!!!” Sang Hyun berteriak didepan Jung Ki dan Min Ho.
“WAEYO?! Aisssssssssshhhh~ Kenapa kau berteriak!” Min Ho memasukkan jari telunjuknya kedalam lubang telinga sambil mengucek-nguceknya.
“Hyung~Aku tidak sanggup lagi mengerjakan semua pekerjaan rumah! Aku juga butuh istirahat! Aku mengalah dan melakukan semua itu karna aku yang paling kecil! Tapi kali ini, aku tidak sanggup lagi! Kalian berdua harus mencari seorang ahjumma!” Sang Hyun mengeluarkan unek-uneknya dan meninggalkan kedua hyungnya itu.

“Hyung~Apa yang harus kita lakukan?” Min Ho mengarahkan pandangannya pada Jung Ki.

Jung Ki hanya mengangkat bahunya sambil memandang pada Yesung dan melanjutkan bacaannya.

“Mian…mianhe…Aku lupa mencarikan seorang ahjumma untuk kalian! Besok aku jamin kalian tidak akan melakukan pekerjaan rumah lagi.” Kata Yesung menengahi.

++++++++++++++++++++++

@Eun Hee’s house

“Byung Cha~ Mulai besok kau harus bekerja! Aku ada tugas mendadak ke Pusan, mungkin sekitar 3 bulanan. Karna aku tidak mungkin membawamu ikut. Jadi, hari ini akan ku carikan pekerjaan sementara untukmu.” Eun Hee menjelaskan.
“Ne~Gomapseumnida eonnie…Bisa tinggal bersamamu saja, aku sudah sangat senang! Setelah aku mendapatkan pekerjaan, kau tidak perlu lagi membawaku tinggal bersamamu. Aku tidak akan menyusahkanmu lagi. Gomawo~” kata Byung Cha sambil tersenyum.
“Kau jangan seperti itu. Kau tidak usah sungkan. Kau sudah kuanggap sebagai saudara perempuanku sendiri!” Eun Hee memeluk Byung Cha erat.
“Gomawo eonnie~” Byung Cha membalas pelukan Eun Hee.

+++++++++++++++++++++++++
Sore harinya, Eun Hee buru-buru pulang kerumah.

“Byung Cha~a! Aku sudah menemukan pekerjaan yang cocok untukmu.” Eun Hee memasuki rumah dengan terburu-buru.
“Jincha?”
“Tadi aku bertemu dengan teman SMA ku Kim Yesung, dia membutuhkan seorang ahjumma dirumahnya. Aku tau kau orang yang sangat rajin, walaupun tidak pandai memasak. Tapi aku yakin, kau bisa mengerjakan pekerjaan itu! Bagaimana?”
“Ahjumma?”
“Ne~ Kenapa? Kau tidak mau? Hanya pekerjaan itu yang bisa kucarikan untukmu. Kau tidak memiliki ijazah, pengalaman kerjamu juga aku tidak tau.”
“Bukan begitu eonnie~ Aku tidak keberatan, sama sekali tidak! Gomawo eonnie.”
“Semua sudah beres! Besok pagi sambil berangkat kerja, kau akan ku antarkan kekantornya.” Kata Eun Hee bersemangat.

++++++++++++++++++++++++++++++

Keesokan harinya Eun Hee mengantar Byung Cha ke kantor Yesung.

“Yesung sshi, ini ahjumma yang aku ceritakan padamu itu!”

Yesung melihat Byung Cha dari atas sampai bawah. Celana trening, baju kaus+hoodie, rambut dikuncir kebelakang, dengan sepatu olahraga.

“Kau mencarikanku seorang pelatih senam?” kata Yesung sambil menatap Byung Cha aneh.
“Aissssssshhhhhhh~ Kau bisa mengubah gayanya jika kau mau! Aku harus pergi sekarang. Byung Cha~ Jaga dirimu.” Eun Hee memeluk Byung Cha.
“Ne~ Kau juga Eonnie~”
“Sampai jumpa semuanya.” Eun Hee meninggalkan Yesung dan Byung Cha.

Selang beberapa menit kemudian.

“Kau…? Siapa namamu tadi?” Kata Yesung sambil meningat-ingat nama wanita yang berdiri didepannya.
“Byung Cha~ Go Byung Cha..”
“Ne~ Go Byung Cha…Ikut aku! Kita akan segera kerumah tempatmu bekerja.”

Yesung membawa Byung Cha kerumah Jung Ki, Min Ho dan Sang Hyun. Saat itu, mereka bertiga sedang berada diluar rumah, untuk mempersiapkan konser perdana mereka yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi.

“Baiklah~ Ini rumahnya! Kuserahkan rumah ini padamu~ Aku pergi dulu. Semua keperluan sudahku catat disini.” Ye Sung memberikan sebuah notes pada Byung Cha dan meninggalkannya seorang diri.

+++++++++++++++++++++++++++++++

Byung Cha memulai pekerjaannya.

“Haufffff~” Byung Cha menghapus keringatnya dan tersenyum puas.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki membuka pintu rumah.

“Apakah ahjumma itu sudah datang?” kata Sang Hyun sambil membuka pintu rumah.
“Annyeonghassimnikka~” Byung Cha yang sudah menunggu di depan pintu mengucapkan salam dan membungkukkan badannya pada tuan rumah.
“Aisssssssshhhhh~ Kau membuatku kaget!” Sang Hyun memegang dadanya.
“Annyeong~” sapa Byung Cha pada Min Ho yang hanya diam saja.

Min Ho hanya tersenyum kecil dan beranjak menuju kamarnya. Sang Hyun mengikutinya.

Jung Ki yang masih berada diluar, beranjak memasuki rumah.

“Hyunnie~ Bantu aku!” Teriak Jung Ki dari arah luar.
“Annyeonghaseo~” sapa Byung Cha pada Jung Ki yang mengangkat beberapa kardus ditangannya.
“NEO~!” Jung Ki terperangah, dan menjatuhkan kardus-kardus bawaannya.

Byung Cha bergegas membereskan kardus-kardus yang berjatuhan itu.

“APA MAUMU? KAU? Kenapa kau bisa sampai disini?! Bukankah kau bilang tidak akan menggangguku lagi?” Jung Ki merendahkan nada bicaranya.
“Mwo? Aku? Apa anda mengenalku?”

Jung Ki memandang Byung Cha heran dan menatapnya dalam. Byung Cha terlihat seperti tidak pernah mengenalnya.

“Nuguseyo? Namamu?” kata Jung Ki berbisik.
“Annyeonghaseo~ Joneun Go Byung Cha imnida.” Jawab Byung Cha sambil menundukkan badannya kembali.
“Go Byung Cha? Aiisssssshhhhh~”
“Kenapa bisa seperti ini? Setauku dia tidak memiliki saudara kembar~Aiiiissssshhh…Kenapa kau selalu mengacaukan hidupku!” kata Jung Ki pelan sambil meninggalkan Byung Cha.

+++++++++++++++++++++++++++++

“Hyung~ Hari ini kita tidak usah makan diluar! Suruh saja ahjumma itu masak, percuma saja kita menggajinya.” Sang Hyun tersenyum senang.
“Terserah padamu~” Jung Ki menyesap kopinya dan kembali membaca koran.

“Ahjumma~” Sang Hyun memanggil Byung Cha.
“Ne~” Byung Cha bergegas.
“Buatkan makan malam untuk kami. Aku ingin makan ikan bakar malam ini. Cepat! Buatkan untukku.”
“E…e…Mianhamnida~ Aku tidak bisa masak ikan bakar.” Jawab Byung Cha sambil menundukkan wajahnya.
“Ya sudah, kalau begitu sop ikan saja.”
“Itu, anu..e…e..Aku juga tidak bisa masak.”
“Mwo?! Jadi kau bisa bikin apa?”
“Aku hanya bisa membuat…”

“Sudahlah… Kita makan diluar saja!” Jung Ki menengahi, dan meninggalkan meja makan.
“Aiissssshhhhhhh~!” Sang Hyun mendengus di telinga Byung Cha.

Min Ho menepuk kecil bahu Byung Cha. Byung Cha hanya menundukkan wajahnya. Selang beberapa menit, setelah kepergian Jung Ki dan kawan-kawan, Byung Cha memasuki dapur dan membuka buku resep makanan yang diberikan Eun Hee padanya.

“Aku harus bisa!” Byung Cha membaca buku tersebut sambil meracik bahan-bahan masakannya.
“Hauuuuuftt~! Kau harus bisa Go Byung Cha~ Jangan terlihat bodoh dihadapan mereka!” Byung Cha menyemangati dirinya.

++++++++++++++++++++++++++++

22.00
Jung Ki dan kawan-kawannya pulang makan malam.

“Hyung~ Aku kenyang sekali! Aku mau langsung kekamar.” Sang Hyun meninggalkan Jung Ki dan Min Ho.
“Dasar anak itu~” Min Ho berjalan menuju toilet.

Jung Ki melihat Byung Cha yang tertidur di meja dapur.

“Gadis ini… Kenapa begitu mirip dengan wanita gila itu? Aisssssshhhh~” Jung Ki membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral sambil memandang Byung Cha heran.
“Hyung~” Min Ho memanggil dan pandangannya mencari keberadaan Jung Ki.

Jung Ki gelagapan dan bersembunyi di belakang pintu.

“Ahjumma ini~” Min Ho tersenyum melihat beberapa masakan yang tertata rapi diatas meja sambil tersenyum memandang Byung Cha yang sedang tertidur.

Min Ho mendekati Byung Cha dan mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya kekamar.

“Mwo?! Mwo?! Apa yang dilakukannya?” dari balik pintu Jung Ki berkata dalam hati sambil terperangah dan menutup mulutnya.

“Hyung~! Apa yang kau lakukan?” Sang Hyun mengangetkan.
“Aku hanya membawanya kekamar. Kasihan dia tidur didapur~ Kamar untuk ahjumma ini dimana? Min Ho menjelaskan.
“Itu~” Sang Hyun menunjuk kamar yang terletak disebelah kamar Jung Ki dan memandang Min Ho heran.

Setelah menyaksikan adegan tadi, Jung Ki memasuki kamarnya.

“Kenapa ia harus menggendongnya? Aiiiiissssssshh~ Kenapa aku? Tidak suka? Mau dia itu ahjumma atau wanita gila itu! Terserah~ Aku tidak peduli! Aisssssssssssh~ Jung Ki~a! Kenapa kau jadi seperti ini?!Haaaaaahhh” Jung Ki mengacak-acak rambutnya

++++++++++++++++++++++++++++

@Keesokan paginya.

Min Ho dan Sang Hyun keluar dari kamar mereka sambil mendekati meja makan.

“Annyeonghaseo~ Silahkan makan…” Byung Cha membungkukkan badannya menyambut kedatangan Min Ho dan Sang Hyun.
“Heh~ Nasi? Apa kau yang masak semua ini?” Sang Hyun mengangkat bibir atas bagian kanannya.
“Sudahlah! Makan saja~” Min Ho membuka kursi makannya.
“Ehm…Hyunnie~Jung Ki hyung mana?” mata Min Ho tertuju pada kursi yang berada ditengah meja.
“Mwo?!” Sang Hyun menghentikan makannya sambil melirik kearah kursi Jung Ki dan mengangkat bahunya.
“Ahjumma~ Aku bisa minta tolong padamu?” Min Ho menatap lembut Byung Cha dengan senyuman mautnya.
“Ne~” Byung Cha gelagapan dan segera menuju kamar Jung Ki.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++

“Aissssshhhh~Anio~anio~Byung Cha! Kau tidak boleh seperti ini!” Byung Cha memukul-mukul kepalanya.
“Annyeonghaseo~” Byung Cha mengetuk pintu kamar Jung Ki.

Tak ada suara. Byung Cha memutar sedikit bredel pintu dan pintu kamar pun terbuka.

“Tidak dikunci~ Annyeonghaseo!” Byung Cha mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang besar itu.
“Wuuuuuaaaaaaaaaa~! Apa yang kau lakukan disini?!” Jung Ki menutup badannya dengan kaus biru yang akan dipakainya.
“Mianhe~ Aku hanya ingin bilang, kalau sarapan sudah siap! Permisi~” Byung Cha menutup matanya dan dengan langkah cepat meninggalkan ruangan itu.
“AIIIIIIIIIISSSSSSSSSSH~ Dasar wanita sembrono!”

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Jung Ki pun keluar dari kamarnya.

“Hyung~ Sarapan dulu!” Sang Hyun berteriak pada Jung Ki yang berjalan menuju pintu keluar.

Jung Ki hanya memandang sekilas pada Byung Cha dengan pandangan tidak enaknya, dan lalu begitu saja. Min Ho pun mengikuti Jung Ki keluar rumah.

“Hyung~ Tunggu aku!” Sang Hyun meminum susunya dan berlari mengejar Jung Ki dan Minho.

“Aissssssshhhhhhh~ Dasar! Pria-pria aneh! Yang satu suka membentak-bentak, satunya lagi bersikap baik dengan tingkah aneh, yang satunya lagi sangat aneh!” Aissssssssshhhhh~ Eonnie! Cepatlah pulang!”

Tiba-tiba telpon berdering.

“Yeoboseyo~ MWO?!” Byung Cha menjatuhkan telpon dari genggamannya.
“Eonnie~Hah…Hah…Hah…” Ia terduduk lemas dilantai, air matanya tertahan.
“Ahjumma~ahjumma~ Ahjumma! Ada apa denganmu?” Sang Hyun mendekati Byung Cha yang terduduk dengan badannya yang bergetar kuat sekali.
“Hua…hu..huh…huh..Haahhh~ Eonnie!” Tangisan Byung Cha mulai pecah.

+++++++++++++++++++++++++++++++++

“Mianhamnida~ Aku baru memberitahumu! Eun Hee berpesan padaku untuk tidak memberitahukanmu mengenai penyakit yang dideritanya. Dia tidak punya keluarga lagi selain dirimu, makanya aku langsung menghubungimu!” Ye Sung menepuk pundak Byung Cha yang sedang berdiri di makam Eun Hee.
“Ne~” Air matanya kembali menetes.

Ye Sung beserta pelayat lainnya satu-persatu bergerak meninggalkan makam.

“Eonnie~ Sekarang aku benar-benar sebatang kara!” Byung Cha mencium nisan Eun Hee dan air matanya terus mengalir dari pelupuk matanya.
“Kau harus sabar!” Min Ho memapah Byung Cha berdiri dan membawanya pergi.

Jung Ki yang berada 1 meter dari mereka, terus memperhatikan sikap Min Ho kepada ahjumma mereka itu.

“Hyung~ Kasian sekali dia!” Sang Hyun memandang Byung Cha dari kejauhan.

Jung Ki tak mengucapkan sepatah katapun, ia berjalan meninggalkan Sang Hyun.

+++++++++++++++++++++++++++

Sesampainya dirumah.

“Ahjumma~ Kau jangan berharap kami akan memperlakukanmu dengan khusus karna kejadian ini ya! Tugasmu tetap harus kau kerjakan! Jika kerjamu tidak sesuai denganku! Maka aku tidak segan-segan untuk memecatmu!” Jung Ki berteriak keras di muka Byung Cha sambil beranjak meninggalkannya.
“Ne~” Byung Cha menundukkan badannya.

Min Ho yang melihat kejadian itu, hanya tersenyum melihat wajah polos Byung Cha yang ketakutan.

“Ahjumma~ Aku turut berduka cita! Kau harus bersabar! Hwaiting~” Sang Hyun memberi semangat pada Byung Cha.

Byung Cha menatap dalam Sang Hyun dengan matanya yang berkaca-kaca. Dag dig dug… Suara jantung Sang Hyun mulai berantakan.

“Aissssssssshhhh~ Kau jangan memandangku seperti itu! Aissssssshhhhhh~” Sang Hyun mengacak-acak rambutnya dan pergi meninggalkan Byung Cha.

Byung Cha yang melihat tingkah Sang Hyun hanya memandangnya heran.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++

“Anak-anak~ 4 hari lagi konser perdana kalian! Aku ingin kalian menampilkan yang terbaik!” Ye Sung tersenyum gembira.

“Ne~” Jung Ki, Min Ho, Sang Hyun meninggalkan Ye Sung sendiri.

“Ahjumma~ Kau lihat itu? Aisssssshhh~ Sepertinya hanya aku yang bersemangat! Hahahahahah…” Ye Sung menelan segelas air di hadapannya.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Keesokan harinya, T.H NAMJA, Jung Ki, Min Ho, dan Sang Hyun pagi-pagi sekali berangkat kerja. Hari ini mereka akan berlatih untuk konser pertama mereka.

“Aissssssssssssshhhh~ Aku terlambat!” Byung Cha melihat jam beker di samping tempat tidurnya.

“Kemana semua orang dirumah ini?” Byung Cha melihat rumah kosong dan matanya menemukan sebuah note di atas meja makan.

Ahjumma pemalas! Hari ini kami berangkat pagi, kau tidak perlu masak pagi ini!

Song Jung Ki😛

“Aissssssshhhhh~ Dasar pria ini! Tidak pernah bersikap baik padaku!” Byung Cha memonyongkan mulutnya.

Setelah masak untuk makan malam, ia mulai membersihkan seluruh ruangan dirumah itu. Tak terasa hari sudah beranjak sore.

“Apakah aku harus masuk kedalam? Pria kasar itu pasti akan marah jika kamarnya tersentuh sedikit saja.” Byung Cha ragu-ragu untuk memasuki kamar Jung Ki.

Sreeeeeeeeetttttttttttt……….. Suara pintu kamar Jung Ki terbuka.

“Aissssssshhhhhhhh~” Byung terkejut melihat foto besar yang terpajang di dinding tengah kamar tersebut.
“Huh…Huh…Dia memang sangat tampan! Ani~ Anio~ Byung Cha! Kau tidak boleh menyukai pria kasar seperti dia! Huh…Huh…” Byung Cha mulai mengepel lantai kamar tanpa melihat foto besar tadi.
“Apa ini? Shim Ah Ra? Seperti pernah mendengarnya! Aissssshhhhhh~ Kepalaku!” Kepala Byung Cha terasa berputar-putar saat melihat sebuah diary yang ia temukan dibawah meja kerja Jung Ki.

Semakin lama rasa sakit kepalanya semakin terasa. Lalu~ BRUK………Sebuah lemari buku terjatuh dan hampir menghimpit badannya.

“Kau tidak apa-apa?” Min Ho menangkap lemari tersebut, dan dengan cepat ia membawa tubuh Byung Cha menjauhi lemari itu.

“AIIIIIIIIIIIISSSSSSSSSHHHHHH~WANITA INI! APA KAU INGIN MENGHANCURKAN KAMARKU!” Jung Ki berteriak keras di depan Byung Cha.
“Mianhe~” Byung Cha berusaha menundukkan badan walaupun kepalanya terasa sangat sakit.
“Kkajja~” Min Ho memapah Byung Cha keluar kamar dan meninggalkan Jung Ki begitu saja.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Jung Ki keluar dari kamarnya dengan wajah merah padam.

“Ahjumma~ HARI INI KAU DIPECAT! Aku akan memberitahukan hal ini pada menejer, kalian tidak usah banyak bicara!” Jung Ki meninggalkan rumah dan membanting pintu.
“Hyung~ Apakah Jung Ki hyung sangat marah?” Sang Hyun memandang Jung Ki yang terlihat sangat marah.
“Dia memang selalu begitu!” Min Ho berkata pelan.
“Miahaeyo~ Semua ini memang salahku! Mianhamnida!” Byung Cha bangkit dari duduknya dan membungkukkan badannya pada Min Ho dan Sang Hyun.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Yesung dan Jung Ki kembali kerumah.

“Jung Ki~a! Kau bisa pikirkan dulu kata-katamu tadi! Jung Ki~a! Jung Ki~a!” Ye Sung memanggil-manggil Jung Ki yang menuju kamarnya.
“Ahjussi~ Aku akan pergi!” Byung Cha membawa kopernya dan berpamitan pada Ye Sung .
“Aissssssshhhh~ Kau ini! Kenapa bisa seperti ini? Hah…Kau akan tinggal dimana?” Ye Sung mengacak-acak rambutnya.
“Ini semua memang kesalahanku! Aku akan berusaha untuk hidupku sendiri. Terimakasih karna telah mengizinkanku untuk tinggal disini.” Byung Cha membungkukkan badannya lagi dan pergi meninggalkan Ye Sung.

@Luar Rumah.

“Ahjumma~Kau benar-benar akan pergi? Aku akan coba bicara pada Jung Ki Hyung!” Sang Hyun menatap Byung Cha sedih.
“Tidak usah~ Aku lebih baik pergi saja!” Byung Cha beranjak pergi dan membungkukkan badannya pada Min Ho yang hanya diam saja.
“Jaga dirimu! Ini~” Min Ho menberikan sebuah hp pada Byung Cha dan meninggalkan Byung Cha begitu saja.

Byung Cha hanya tersenyum pada Min Ho yang mulai tak terlihat lagi.

++++++++++++++++++++++++++++

Setelah kepergian Byung Cha, Jung Ki mulai merasa sedikit tenang. Karna ia telah dijauhkan dari bayang-bayang istrinya.

“Yeoboseyo~ Oh~ Eomma! Ne~ A…a… Ah Ra! Dia sedang bekerja!” Jung Ki mencari alasan.
“Mwo?! Kerja? Kerja apa dia? Kuliah saja belum selesai!” kata Ah Ra Eomma dari balik telepon.
“O…A…Biasalah eomma, acara ibuk-ibuk! Arisanan!” Jung Ki gelagapan.
“Ow…Ya sudah! Kalau begitu, katakan padanya kalu eomma akan pulang besok! Oh, iya jangan lupa jemput eomma di bandara ya!” Jelas eomma sambil mematikan teleponnya.
“Mwo?! Yeoboseyo~ Eomma!”
“Aiiiiiiiiiiiiiiiiisssssssssssshhhhhhhhh~ Apa yang harusku lakukan?!” Jung Ki mengacak-acak rambutnya.

Jung Ki pun turun menemui Min Ho dan Sang Hyun yang sedang menonton televisi. Akal busuk mulai menerawangi otaknya.

“E…e…Minho sshi, apa kau tau ahjumma itu ada dimana?” Jung Ki mendekati Min Ho yang sedang mengunyah pop corn nya.

Jung Ki menjelaskan niatnya pada Min Ho dan Sang Hyun.

“Mwo?! Ahjumma itu~ Mirip dengan istri hyung?!” Sang Hyun menutup mulutnya.
“Aissssssssshhhh~ Kau ini!” Jung Ki memukul kepala Sang Hyun.
“Tapi hyung~ Hanya untuk sementara! Dengan syarat kau tidak boleh berlaku kasar lagi padanya!” Min Ho ragu-ragu.
“Ne~ Baiklah… Baiklah… Aku akan menerima syaratmu itu!” Jung Ki menyetujui.

Min Ho mulai menghubungi hp Byung Cha. Setelah mengetahui keberadaan Byung Cha, mereka bertiga bergegas pergi.

“Hyung~ Itu! Ahjumma itu!” Sang Hyun menunjuk dari balik kaca mobil.
“Byung Cha sshi!” Min Ho memanggil dari sebrang jalannya.
“Ne~” Byung Cha melambaikan tangannya.

Tettttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt……….Sebuah mobil melaju kencang kearah Byung Cha.

“Awaaaaaaaasssss~!” Jung Ki dengan spontan berlari kearah Byung Cha.
“Kalian tidak apa-apa?” Min Ho dan Sang Hyun mendekati Byung Cha dan Jung Ki yang terjatuh di tepi jalan.
“Kau tidak apa-apa?” Min Ho membantu Byung Cha berdiri.
“Ne~ Gwenchana.” Byung Cha melihat Jung Ki yang berjalan menuju mobil.
“Hyung~ Kau tidak apa-apa?” Sang Hyun mengikuti Jung Ki.

++++++++++++++++++++++++++++++++++
Sesampainya dirumah, Jung Ki menjelaskan maksud ia membawa Byung Cha kembali kerumah.

“Neo!” Jung Ki menunjuk Byung Cha.
“Ne~” Byung Cha terkejut.
“Lakukan sesuai instruksi ku tadi.”
“Hajiman… “ Byung Cha sedikit ragu-ragu.
“Tidak ada tapi tapi! Kau lakukan sesuai perintahku! Aku akan membayar 10 kali lipat dari gajimu!” Jung Ki meninggalkan Byung Cha.
“Aisssssssssshhhh~” Byung Cha mengusap-usap keningnya.
“Ahjumma~ Kau berusahalah! Hwaiting~” Sang Hyun menyemangati Byung Cha.

Sementara itu, Min Ho mengikuti Jung Ki kekamarnya.

“Hyung~! Apa tidak ada cara lain? Kau hanya akan menyakitinya!” Min Ho datang tiba-tiba.
“Sudahlah! Kau tidak usah khawatir, eomma tidak akan mengetahuinya.”
“Hyung~ Aku tau dia memang sangat mirip dengan istrimu itu! Tapi, apa kau benar-benar tidak bisa menghubungi istrimu?” Min Ho berusaha menjelaskan.
“Heh~ Waeyo? Ada apa denganmu Choi Min Ho? Apa kau menyukainya?” Jung Ki menyipitkan matanya.
“Mwo?! Aisssssssshhhh~” Min Ho gelagapan dan meninggalkan Jung Ki begitu saja.

++++++++++++++++++++++++++++++++++

@Bandara.

“Eomma~!” Jung Ki memanggil-manggil mertuanya yang sedang mengedarkan pandangannya mencari anak perempuan dan menantunya itu.
“Ah Ra~Jung Ki~!” eomma melambaikan tangan.
“Ah Ra~ Eomma rindu sekali!” Eomma memeluk Byung Cha erat.
“Ne~Ne eomma! Aku juga~” Byung Cha membalas pelukan.
“Ya sudah~ Kita langsung pulang saja! Kkajja~!” ajak Jung Ki.

Sesampainya dirumah, tampak keheranan dari raut wajah eomma.

“Jung Ki~a! Kenapa kita kemari? Kalian berdua sudah pindah?”
“Ne~ Eomma! Karna pekerjaanku, kami berdua harus pindah kerumah ini. Tenang eomma~ Kau tidak usah khawatir, ini hanya untuk sementara. Dirumah ada 2 orang temanku, aku harap eomma bisa memakluminya.”
“Ne… I Hope~”

“Annyeonghaseo~” sapa Sang Hyun dan Min Ho secara bersamaan sambil membungkukkan badan mereka.
“Annyeonghaseo~” jawab eomma sembari tersenyum pada keduanya.
“Dimana kamar kalian?” Tanya eomma pada Jung Ki dan Byung Cha.
“Disana!”
Jung Ki menunjuk kamar sebelah kanan, sedangkan Byung Cha menunjuk yang disebelah kirinya.

“Mwo?”
“Maksudnya yang ini eomma~!” Jung Ki mengarahkan telunjuk Byung Cha kearah kamar tidurnya.
“Ne~ Yang ini!” Byung Cha gelagapan.
“Kamar untuk eomma yang mana?” Tanya eomma lagi.
“Yang ini~!” jawab Jung Ki sambil menunjuk kamar yang dipakai Byung Cha biasanya.
“Ya sudah~ Eomma istirahat dulu! Kalian berdua juga harus istirahat~ Sudah malam…”
“Ne~ Eomma!”
“Ayo masuk~!” kata eomma sambil menunjuk kamar mereka.

++++++++++++++++++++++++++++++++++

@Jung Ki’s Room

“Aiiiiiiisssssssshhhhhh~ Apa yang harusku lakukan?” Jung Ki mengacak-acak rambutnya dan duduk di atas tempat tidur.
“Mollaso~” jawab Byung Cha yang muak melihat tingkah Jung Ki.
“Neo~! Aiiiiiisssssssshhhhhh~” Jung Ki menunjuk wajah Byung Cha dengan tatapan marahnya.
“Apa yang bisa kita lakukan? Kau yang membuat semua ini terjadi!” kata Byung Cha geram.
“Aiiissssshhhhhh~ Ya sudah! Kau tidur diluar!” kata Jung Ki enteng.
“Mwo? Naega? Kau tega sekali pada wanita!” Byung Cha menyipitkan matanya.

“Baiklah~ Kita akan tidur satu kamar~!” kata Jung Ki menggoda.
“Mwo?! Aku tidak mau!”
“Kalau kau tidak mau silahkan keluar~!”
“Baik~! Aku yang akan keluar!” Byung Cha membawa selimutnya dan keluar dengan kesal.

++++++++++++++++++++++++++++++++++
@Ruang TV

“Aissssshhhh~ Pria itu! Mengesalkan!” Byung Cha menutup mukanya dengan selimut.

Min Ho mendekati Byung Cha yang akan tidur di sofa.

“Byung Cha sshi? Kau tidur disini?”
“Oh…Iya! Pria itu tidak mau mengalah denganku~!” Byung memonyongkan mulutnya.
“Hahah… Ya sudah, kau tidur dikamarku saja! Biar aku yang tidur disini!”
“Oh…Andwae~! Aku tidak apa-apa disini! Lebih baik kau masuk saja. Ga enak kalau eomma liat!”
“Huh…Baiklah~! Jaga dirimu…” Min Ho meninggalkan Byung Cha.

Byung Cha hanya tersenyum kecil pada Min Ho.

“Ah Ra~a! Kenapa kau tidur disini?” kata eomma tiba-tiba.
“Oh…Eomma~! Aku kira siapa.”
“E…anu…Chogi..E…itu…Dikamar panas sekali~! Aku tidak bisa tidur.”
“Kau tidak boleh tidur diluar. Nanti masuk angin, kau kan bisa menghidupkan AC dikamar! Ayo cepat masuk!”
“E…Ne eomma~!” dengan wajah pasrah Byung Cha membawa bantal dan selimutnya kembali kekamar Jung Ki.

Ia melihat Jung Ki sudah tertidur pulas dengan posisi mengahbiskan seluruh tempat tidur.

“Aiiiisssssshhhh~ Pria ini! Tidur saja begini… Pantas saja bangunnya seperti itu!” Byung Cha menyipitkan matanya memandang Jung Ki.
“Huh…Aku tidur disini saja~” Byung Cha mengembangkan alas tidurnya disamping meja kerja Jung Ki.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++

Keesokan paginya.

“Kau~! Bangun…” Jung Ki membangunkan Byung Cha dengan kakinya.
“Ah……..” Byung Cha merenggangkan otot-ototnya.

Jung Ki menatap Byung Cha tak berkedip.

“Aissssssshhhhhh~ Kau ini! Tak bisa melihatku senang sedikit!” Byung Cha beranjak menuju kamar mandi.
“Andwae~ Anio~ anio!” Jung Ki berusaha menyadarkan dirinya.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

@ Ruang makan.

“Ayo kemari~ Sarapan dulu!” Eomma menyuruh semua penghuni rumah makan bersama.
“Oh… Eomma tidak usah repot begini~ Biar aku saja yang mempersiapkannya.” Byung Cha segera mendekati eomma yang sedang menggoreng telur.
“Neo?! Kau kan tidak bisa apa-apa anakku! Hahahaha…Kau pandai sekali bercanda!” kata eomma menyindir.
“Benar! Kau kan tidak bisa apa-apa!” Jung Ki menambahkan.
“Aissssssssssshhhhhh~” Byung Cha merapatkan giginya memandang Jung Ki yang duduk di kursi makan.

Sang Hyun yang baru datang, langsung bertanya menggoda pada ahjumma mereka itu.

“Ahjumma~ E…o…Ah Ra sshi! Bagaimana tidurmu?”
“Neo!” Byung Cha menunjuk Sang Hyun sambil mengeluarkan kata-kata yang sulit di dengar.

Min Ho yang melihat tingkah mereka hanya tersenyum kecil sambil menutup mulutnya.

“Apa?!” Byung Cha berbisik sambil membelalakkan matanya pada Min Ho.

Min Ho terperangah melihat tingkah Byung Cha yang berubah 180 derjat dari sejak ia datang kerumah mereka.

“Ayo makan~!” Eomma membuka sumpitnya.

++++++++++++++++++++++++++++++++

Hari ini adalah konser pertama grup band yang dinaungi oleh Jung Ki, Min Ho, dan Sang Hyun itu.

“Ah Ra sshi~ Kau ikut ya?” Sang Hyun memegang kedua tangan Byung Cha.
“Mwo?!” Byung Cha membelalakkan matanya melihat genggaman tangan Sang Hyun.
“Aissssssshhhhhhhhh~ Kau ini!” Jung Ki membelalakkan matanya pada Sang Hyun dan memandang pada eomma.
“Kau ikut saja! Paling tidak kau berikan semangat pada suamimu itu.” Kata eomma menengahi.
“Ne eomma.” Byung Cha menyetujui sambil tersenyum tidak enak pada Jung Ki.

“Kalau begitu eomma ikut juga!” Jung Ki menyarankan.
“Tidak usah! Eomma hari ini ingin bertemu dengan teman lama.

Mereka berempat pergi bersama. Byung Cha duduk didepan bersama Min Ho yang menyetir mobil.

“Aisssssssssshh~ Wanita ini!” Jung Ki menyipitkan matanya dan berkata-kata yang sulit di dengar memandang Byung Cha dan Min Ho dari kaca mobil.
“Apa hyung?” Sang Hyun memandang kearah Jung Ki.
“Gwenchanayo.”

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Konser dimulai beberapa menit lagi. Byung Cha mengambil tempat paling depan.

“Kau tetap disini~” Min Ho memegang sebuah kursi dan mempersilahkan Byung Cha duduk.
“Ne~ Gomawoyo.”

MC mengambil tempat, beberapa menit menyapa penonton.

“T.H NAMJA~!”

Intro lagu yang dimainkan Jung Ki menjadi pembukaan konser perdana mereka.
“One two three…Yeaaaaaahhhh~!” Sang Hyun memukul drumnya.

Min Ho dengan bass nya mulai bernyanyi.

saranghandago soksagideon dagamhan geu mal
eoreumcheoreom chagawojyeo gago
mollatdeon saramdeulboda deo janinhagedo
naui jeonbu jitbarpgo tteonaga
niga jun sarangira ibyeoldo niga jumyeon
nan geujeo apahamyeon doegenni
geu ttaen nareul doraboneungeoya
ppitturheojin sesang soge
gamyeon soge gariwojin
neoui chagaun siseoneul pihae
neoui naengso soge pieonan jeo geomeun kkotteureul bwabwa
hayakeman boyeojudeon geojitdwaetdeon neoui sarangeul.

Min Ho tersenyum manis sekali membawakan lagu mereka. Pandangannya tak lepas dari wanita yang berdiri tepat di depannya itu. Byung Cha yang melihat tingkah Min Ho, hanya menundukkan wajahnya menahan malu karna semua penonton memandangnya tidak senang.
“Aissssshhhhh~ gadis ini! Siapa dia?” salah seorang penonton berkomentar.”
“Apakah dia yeoja chingu nya oppa?”
“Anio~ jeoseonghamnida!” Byung Cha meninggalkan tempat penonton.

Tulisan iseng~Apresiasi dari sarap “DRAMKOR”

Akhir-akhir ini, gu kumat dramkor a.k.a drama korea~! SARAP ALIAS PALING TEPATNYA~

Emang sarap kepalang ajar…

2 Hari ngabisin wkt brjam2, nongkrong depan tv*astaghfirullah*

Nonton 20 episode PICK THE STARS…

Emang dah,,awal liat Kim Ji Hoon eneq gmn gt,,rambutny itu lo…belahannya wadui~!SARAP…;p

tapi,,diliat lama2 tu drama kliatan biasa aja dia…

Malah jadi lumayan ska gu *tp,,ttep mkir uda ktuaan buat seumuran gu* wakakakak…emg siapa jg yg mw sma lu cha~!!

Emang stylenya d tu drama emg harus,,musti,,kudu bgtu..Gu aja yang LEBAY banget~hhhaaa😛

Trus Si Pal Kang jg imut,,wktu rmbutnya pndek di iket poni depan gt…hhhaaayyy~ga nyangka umurnya 29 th a.k.a 30 th*KOREA* utk thn 2010…

Trus Tu akting anak2 lucu ngegemesin bgd,,

Apalagi, itu tu adeknya si Jandi*d BBF* mkin gede…buka mata segede kingkong!!*wanita mata gerobak*

Si Nammie imut sangat kecil2 ikut2an akting jg,,,BRAVO bwt uri nammie…wakakakak

Trus 1 lagi, ternyata………………………………………………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………………..*titik sepanjang tali jemuran*

Itu tu Shin Dong Wook yang jadi Jun Ha….

Ternyata sepupu nya namphyon gu….Haahahahahahah…*ngakak setan* ;D ;D ;D ;D

SENENG BANGET GU…

NNTON DRAMA NAMPHYON KAGAK MAU,,,

MNDING NNTON DRAMA SEPUPUNYA AJA…hihihihihihi🙂🙂

TRUS CRITA HOT BLOOD NI~

Dramanya mirip gaya crita conan*cm’ style…ga nyampe critanya*

Setiap episod punya kasus tersendiri…

Awal liat d A.star langsung pgen nnton,,liat HA RYU nya ni…*malu2 ayam*

KEREN BGD CRITANYA….

DEMI SANG AYAH…DEMI CITA2…

LIKE IT BGD DAH………………..

Sedih+komedi+secuil romantisasi…*jarang bgd ni adegan*

Bagus la….gu ska yg beginian….hhhhaaa*ngakakkunti again n again*

Walo endingnya gantung sangat….

Tapi gu SUKA…hehhehehe*lu ska aja smwnya cha*

TARGET SELANJUTNYA……

SMILE, YOU….hhhhhhaaaaaa~~~

I’m coming~;D ;D

#FF One Shoot# ‘Wait For You’ ((Special Lee Ki Gwang a.k.a AJ))

Title : “ Wait For You ”
Genres : Romance
Author : Cha_Nichbum

Main Casts : Lee Ki Gwang
Go Byung Cha

Setiap kupandangi langit biru yang menutupi pandanganku, ingin kuhapuskan wajahmu dari hidupku.

Selamanya.
Hingga mataku tak mampu lagi menatapmu.
Namun, hatiku tak pernah mengiyakan permintaan jiwaku.
Kau…
Yang pernah mengisi hidupku, tak pernah ingin ku hapuskan air mata yang membasahi pipimu.
Hitungan hari, yang kutunggu di balik sisi kamar yang tersembunyi dari keramaian. Tak mampu ku tahan bulir-bulir air dipelupuk mataku yang selama ini kubendung untukmu.
Akan kutunggu dirimu hingga kau datang menatap tubuhku yang dingin.
Seorang diri menunggu hari itu.

Ki Kwang duduk disudut kamar kosong seorang diri, tangannya tak berhenti menulis kalimat-kalimat yang selama ini terpendam jauh dalam lubuk hatinya.

Bulir-bulir air mata yang selama ini terkunci dibalik pelupuk matanya, selalu terbendung kuat. Tak pernah terbayangkan olehnya hari itu semakin dekat. Selembar foto masa lalu masih terselip di dalam diary biru miliknya.

Ia mulai merebahkan dirinya, menatap dalam foto yang tergenggam erat di tangannya. Sembari menutup mata dan tersenyum manis sekali.
Apa wujud perasaanku ini?
Wujud perasaanku padamu…
Ingin selalu kubuka mataku, hingga kau datang menatapku lembut dengan senyumanmu.
Tak kan pernah kuteteskan air mata ini, hingga kau datang padaku.

=========================
Dari balik jendela pesawat, Byung Cha menatap gumpalan awan putih bersih. Pandangan matanya menyiratkan sesuatu yang terpendam dalam hatinya.

“Masihkah kau menugguku?” Byung Cha berkata lembut sambil tersenyum kecil menatap awan.

Hamparan pantai Jumunjin, menyiratkan seseorang yang pernah mengisi hidupnya. Ia hanya tersenyum kecil sembari menyusuri pantai.

“WWWUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~huh…huh…huh…hhhhhhhhhhhhaaaaaaaahhhhhhhhhh~”

===========================
Ki Gwang meletakkan diary nya diatas meja kayu yang terletak disebelah tempat tidur miliknya. Ia mulai merasakan tubuhnya lemah, seperti beban berat memukul kepalanya. Rasa sakit tak tertahankan. Ia mulai mengusap hidungnya, cairan merah mengalir bagai air dari hidungnya. Ia terus berusaha menghapusnya. Desahan napas kesakitan mulai keluar dari mulutnya. Bibirnya terkatup rapat menahan rasa sakit yang menghilangkan sedikit kesadarannya. Kepalan tangannya mulai mengepal dengan kuat. Tangan kanannya menangkap cepat meja kayu disebelahnya, sebuah kotak kecil berisi beberapa butir obat terjangkau olehnya. Dengan sedikit tenaga yang ia miliki, ia berusaha membuka kotak itu dan mengambil satu isinya.

Aku akan terus membuka mataku, hingga kau datang dan menatapku!

=======================
Byung Cha mulai menyusuri jalan setapak desa. Ia berjalan lambat sambil memperhatikan sekeliling tempat yang ia lalui. Ia terhenti disebuah tempat yang membuat air matanya kembali menetes.

<<=<<=<<= FLASH BACK

Ki Gwang:

Kau adalah aku…
Hidupku adalah hidupmu…
Jangan pernah berpikir jika tubuh kita jauh, kau akan terpisah dariku…
Kau adalah adikku…
Kau akan tetap menjadi adikku…
Walau kita lahir dari rahim yang berbeda…
Ayah barumu, pasti akan membahagiakan kau dan ibu.
Ingatlah, kita pernah menjadi sebuah keluarga….
Kau, aku, ayahku dan ibumu…
Tapi saat ini, tuhan lebih memberimu kebahagiaan dari pada aku.
Ayah baru yang akan selalu menjagamu.

Byung Cha:

Oppa~
Kau harus ikut bersamaku…
Aku ingin kita tinggal bersama seperti dulu…
Aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudara tiriku..
Kau selamanya akan menjadi oppaku…
Oppa yang selalu menjagaku…
Aku tidak butuh ayah baru itu…
Ia hanyalah kebahagiaan bagi ibuku…
Bukan untukku…

Ki Gwang:

Hapus air matamu…
Jangan pernah perlihatkan air mata itu padaku, hingga suatu saat nanti kau kembali lagi….
Aku bisa menjaga diriku sendiri…
Pergilah….

=======================
Air mata Byung Cha mengalir tak tertahankan dari pelupuk matanya.

“Aku tak bisa menepati janjiku, oppa~Aku merindukanmu!” Katanya sambil menggenggam erat mainan awan putih ditangannya.

=========================
“Ki Gwang~a! Ada apa denganmu?” seorang gadis memasuki kamar Ki Gwang dan dengan cepat ia meminta bantuan.

Byung Cha menghentikan langkahnya disebuah rumah yang tak asing lagi baginya.
Tangannya mulai mengepal ingin mengetuk pintu rumah itu. Belum sampai kepalannya ke pintu, seorang gadis lebih dulu membuka pintu.

“Annyeong~Anda mencari siapa ya?” kata gadis itu.
“Annyeong~Anda tinggal dirumah ini?” Tanya Byung Cha heran.
“Ani~ani~aku hanya menjaganya sebentar, karna pemiliknya sedang tidak ada.” Jelas gadis tadi.
“Kemana pemilik rumah ini pergi?” Tanya Byung Cha lagi.
“Ia baru saja di bawa kerumah sakit. Penyakitnya kumat lagi.” jelas gadis itu sedikit berkaca-kaca.
“Mwo? Di rumah sakit mana?” Tanya Byung Cha sedikit menaikkan nada suaranya.
“Rumah sakit Kangnam….”

Belum sempat gadis tadi melanjutkan perkataannya, Byung Cha pergi begitu saja meninggalkannya.

=====================
@Hospital

Ki Gwang menggenggam diary biru miliknya. Dokter berusaha memberi pertolongan padanya. Sedkit hentakan pada tubuhnya. Denyutan jantungnya masih terdengar, namun tubuhnya tak dapat bergerak sedikitpun. Selang oksigen yang mengeluarkan gelembung2 udara disampingnya menandakan bahwa ia masih dapat bernapas.

Byung Cha yang baru tiba di Rumah sakit, berlari menuju meja resepsionis.
“Pasien bernama Lee Ki Gwang dirawat dimananya?” Tanya Byung Cha tergesa-gesa.
“Oh…Lee Ki Gwang! Tuan Ki Gwang ada diruang UGD…” jawab resepsionis tadi.

Dengan kilat, Byung Cha berlari menuju ruang UGD, air matanya terus menetes membasahi seluruh pipi merahnya.

=======================
Dari balik kaca, Byung Cha terus menangis menatap dalam pada orang yang sedang berjuang hidup dan mati itu.

“Mianhe oppa~Aku terlambat!” kata Byung Cha sambil memegang kaca tempat ia melihat.

Ki Gwang perlahan membuka matanya, dan melihat ke tempat Byung Cha. Pandangan mereka bertemu. Isyarat mata Ki Gwang membuat Byung Cha tersenyum padanya.

“Oppa~Aku disini!” kata Byung Cha lembut.

Dokter keluar dari ruangan, dan menyuruh Byung Cha masuk.

Dengan langkah lambat Byung Cha mendekati tempat tidur Ki Gwang.

“Oppa~Aku kembali untukmu.” Byung Cha duduk di kursi yang terletak disamping tempat tidur Ki Gwang.

Ki Gwang tak mengucapkan sepatah katapun, terlihat dadanya kembang-kempis berusaha terus bernapas.Tangannya menggenggam erat tangan Byung Cha. Ia menatap Byung Cha dalam, dengan tatapan lembutnya. Rasa sakitnya mulai hilang. Dengan sedikit kekuatan yang ia miliki, ia memberikan diary biru yang di genggamnya sejak tadi pada Byung Cha. Byung Cha hanya menatap sedih diary itu. Senyuman manis terkembang manis di wajah Ki Gwang, matanya mulai tertutup. Setetes air, mengalir dari balik pelupuk matanya. Detakan jantungnya terhenti. Genggaman tangannya ke Byung Cha pun terlepas.

“Kau menangis oppa~ Jangan menangis untukku!” Byung Cha tak dapat mengeluarkan air matanya lagi. Tangannya tergenggam kuat. Hatinya menjerit di balik tubuhnya. Ia hanya menundukkan wajahnya lemah dan mencium puncak kepala pria yang sangat ia cintai itu.

“Mianhe~” kata Byung Cha pelan.

Terdengar suara rintik hujan, dibalik mendungnya awan. Tak terlihat awan putih siang itu. Seakan-akan menangisi kepergian Ki Gwang untuk selama-lamanya.

======================
Byung Cha membaringkan tubuhnya yang lelah ke tempat tidurnya, setelah ritual sedih yang ia lalui siang itu. Pemakaman Ki Gwang berjalan lancar. Ia mulai membuka lembaran-lembaran diary biru yang di berikan padanya. Halaman demi halaman membuat senyuman manis terkembang di wajahnya. Halaman terakhir terbuka olehnya.

Apa wujud perasaanku ini?
Wujud perasaanku padamu…
Ingin selalu kubuka mataku, hingga kau datang menatapku lembut dengan senyumanmu.
Tak kan pernah kuteteskan air mata ini, hingga kau datang padaku.
Karna aku mencintaimu…
Lebih dari sekedar seorang adik…
Nae saranghae yeongwonhi~
Go Byung Cha!^^,


Byung Cha tak mampu membendung air matanya, air matanya menetes di halaman akhir diary tersebut. Hatinya seperti teriris sakit. Ia mengusap sedikit air matanya.

“Aku tak akan menangis lagi oppa~ Tak kan pernah lagi menangis untukmu!” kata Byung Cha sembari mencium mainan awan putih di tangannya.

______THE END______

Wait For You by ‘Elliot Yamin’

I never felt nothing in the world like this before
Now I’m missing you and I’m wishing
You would come back through my door, ooh
Why did you have to go? You could’ve let me know
So now I’m all alone

Girl, you could have stayed but you wouldn’t give me a chance
With you not around it’s a little bit more than I can stand, ooh
And all my tears they keep running down my face
Why did you turn away?

So why does your pride make you run and hide
Are you that afraid of me?
But I know it’s a lie what you keep inside
This is not how you want it to be

So baby, I will wait for you
‘Cause I don?t know what else I can do
Don?t tell me I ran out of time
If it takes the rest of my life

Baby, I will wait for you
If you think I’m fine it just ain’t true
I really need you in my life
No matter what I have to do, I’ll wait for you

Been a long time since you called me
(How could you forget about me?)
You gotta be feeling crazy
How can you walk away, everything stays the same
I just can’t do it baby

What will it take to make you come back?
Girl, I told you what it is and it just ain’t like that
No, why can’t you look at me? You’re still in love with me
Don?t leave me crying

Baby, why can’t we just, just start over again?
Get it back to the way it was
If you give me a chance I can love you right
But you’re telling me it won’t be enough

So baby, I will wait for you
‘Cause I don’t know what else I can do
Don’t tell me I ran out of time
If it takes the rest of my life

Baby, I will wait for you
If you think I’m fine it just ain’t true
I really need you in my life
No matter what I have to do, I’ll wait for you

So why does your pride make you run and hide
Are you that afraid of me?
But I know it’s a lie what you’re keeping inside
That is not how you want it to be

Baby, I will wait for you
Baby, I will wait for you
If it’s the last thing I do

Baby, I will wait for you
‘Cause I don’t know what else I can do
Don’t tell me I ran out of time
If it takes the rest of my life

Baby, I will wait for you
If you think I’m fine it just ain’t true
I really need you in my life
No matter what I have to do, I’ll wait for you

I’ll be waiting

FF One Shoot!! #One of a Kind#

Annyeong~ Hehehehehehe…nyengir2 gaje!
*Langsung keinti aja de*
FF romance pertama w! Ntah ff romance ntah tidak!*tapi,,sepertinya mmg tdk*
Mian kalo aneh…soalnya ga berpengalaman nulis romantis2an. Wakakakakak…Puyeng mikirnya.
Jadi, baca aja la! cekidot…yyow!
Jika ada kritik dan saran mohon disampaikan.
Khamsahamnida~ ^^

Musim semi kembali, bunga-bunga mulai bermekaran, dan burung-burung kembali dengan siulnya. Binatang musim dingin mulai memasuki tempat persembunyian mereka kembali. Pagi yang begitu hangat.

“Aisssshhh!” Nichkhun yang terbangun dari tidurnya langsung menuju kamar mandi. Dengan mata yang sedikit terbuka, ia menghapuskan mukanya ke handuk yang tersangkut tepat dibelakang pintu kamar mandi. Secepat kilat ia membasuh mukanya, setelah tersadar dari mimpi. Ia berpikir, mengapa ia harus mengelap muka sebelum mencucinya.

“DONGSAENG! LAMA SEKALI DIRIMU!” Kibum berteriak dari luar.
“Aishh!” Nichkhun menjatuhkan sikat gigi yang ia pegang. “Sebentar hyung~ Aku akan segera keluar!” Nichkhun membalas teriakan Kibum.

Dalam hitungan menit, Nichkhun mulai membuka pintu kamar mandi. Kibum yang melihat pintu terbuka, langsung menyambar bredel pintu dan menutupnya.

@Bath Room
Kibum bersiul-siul mengikuti irama lagu, dengan headset terpasang di telinganya. “
Don’t you know, there’s nothing I can do, I gotta get to know you…” Kibum menghentikan nyanyiannya saat melihat handuk yang terjatuh dilantai. Seketika wajahnya berubah dan matanya menyipit melihat handuk putih dengan noda merah tersebut.

“Apa ini?” Kibum terdiam.
—————————————-

“Hyung~ Aku duluan!” Nichkhun berteriak meninggalkan Kibum kesekolah.
“Ne~” Kibum menjawab pelan.

@Hana High School
Kibum berjalan dengan tatapan kosong sambil menundukkan badannya memandang lantai.
“Kibum~a!” Donghae memanggil Kibum yang terlihat aneh pagi itu.
“Ne~” Dengan tampang polos, Kibum mencari sumber suara yang memanggilnya.
“Aisssssssssshhhh! Kibum! Ada apa denganmu? Kau terlihat sangat aneh! So weird!” Donghae memukul bahu Kibum sambil menyipitkan matanya dan menggandeng Kibum masuk kelas.
“Gwenchana!” Kibum menggelengkan kepala.
————————————

@Class II A
Nichkhun gelagapan mencari kelas barunya. Ia kebingungan, karena di tahun ajaran baru ini, ia menduduki kelas 2. Tentu saja dengan teman baru dan kelas yang baru.
“Nichkhun~a! Kau duduk bersamaku saja!” Hangeng berteriak menawari Nichkhun.
“Ne~” Nichkhun mendekati tempat duduk Hangeng.

“Byung Cha! Kita duduk disini saja.” Min Hee meletakkan tas nya di meja yang berada tepat di samping tempat duduk Nichkhun dan Hangeng.
“Ne~” Byung Cha tersenyum mengiyakan.

“Aku ingin ke……..” Wajah Byung Cha tepat didepan muka Nichkhun.
Mereka terdiam sebentar dengan tatapan kosong. Min Hee dan Hangeng hanya melancarkan pandangan aneh pada kedua teman mereka tersebut.
“Aku ingin ke toilet!” Byung Cha buru-buru pergi meninggalkan kelas.
“Kau tidak apa-apa chingu?” Hangeng mengipas-ngipaskan tangannya ke muka Nichkhun.
“Gwenchana~” Nichkhun mengerutkan dahinya dan kembali duduk.

————————————-

“Hyung~” Nichkhun berlari mendekati Kibum.
“Ne~” Kibum memandang kebelakang.
“Tunggu aku hyung~” Nichkhun memegang tangan Kibum.
Kibum mengelus rambut Nichkhun dan berjalan pulang.
“Dongsaeng! Kau tidak punya masalah kan?” Kibum menghentikan langkahnya dan menatap Nichkhun serius.
“Kau kenapa hyung? Masalah apa? Aku tidak punya masalah apapun.” Nichkhun menjawab pertanyaan hyungnya itu dengan bercanda.
“Ah! Sudahlah! Ayo kita pulang.” Kibum kembali mengacak-ngacak rambut Nichkhun.
“Ah…….Hyung!” Nichkhun berusaha melepaskan tangan Kibum.

————————————

@Home
“Hyung~ Kapan aboji dan omoni pulang? Sudah 3 bulan kita tidak bertemu mereka.” Nichkhun bertanya pada Kibum dengan tatapan sedih.
“Beberapa minggu lagi dongsaeng. Kau kan tau, aboji dan omoni pulang ke Korea 3 bulan sekali. Kita harus bersabar. Mereka bekerja di Amerika juga untuk kita. Mereka ingin kita tumbuh di Korea dan belajar disini.” Kibum menjelaskan.
“Ne~” Nichkhun meninggalkan Kibum dan pergi menuju toilet.

Kibum yang melihat dongsaengnya, hanya menggelengkan kepala..

@Kamar mandi.
Nichkhun terbatuk sambil memegang tangannya. Segumpal darah kental tertampung oleh telapak tangannya. Ia merasakan kepalanya pusing dan tubuhnya lemah.
“Puih…puih…” Nichkhun meludah ke wastafel. Ia buru-buru mencuci tangannya dan melap mulutnya dengan handuk.
“Omoni~Aboji~” Nichkhun menangis disudut bath up.

——————————————

@Hana High School
Nichkhun datang lebih awal dari biasanya, karena hari ini ia mendapat giliran membersihkan kaca kelas.
“Huh! Belum ada yang datang.” Nichkhun mengambil ember yang berada disudut pintu.
Tiba-tiba seseorang mendorong pintu tersebut dan membuat Nichkhun terkejut. Ne~ Byung Cha mendorong pintu.
Tanpa sepatah katapun Byung Cha berjalan menuju tempat duduknya. Nichkhun yang melihat Byung Cha masuk, juga tidak mengatakan apapun dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Pagi ini Byung Cha juga mendapat tugas piket kelas. Tak terdengar sedikitpun suara dalam kelas II A walaupun ada dua manusia di dalamnya. Mereka melakukan tugas piket masing-masing, Nichkhun melap kaca, dan Byung Cha menyapu lantai.

————————————
@In front of Class

“Aiiiiiissssshhhhh! Kenapa aku jadi salting begini? Ada apa denganmu Khun?” Nichkhun berkata sendiri saat mengambil air di keran depan kelas.
“ Aku tidak boleh bersikap seperti ini! Biasa saja! Santai khun! Mungkin karena kau belum mengenalnya.” Nichkhun menghembuskan napas dan mengatur jantungnya yang sedari tadi berdegup kencang.

———————————–

“Aiiiiiishhhhhhhh! Ada apa denganku? Hah! Kenapa aku jadi seperti ini? Huh!” Byung Cha memukul-mukul dadanya.
“Anio~Anio~Ini bukan apa-apa! Tidak ada apa-apa! Santai…santai!” Byung Cha tersenyum sambil menghembuskan udara keluar beberapa kali. Sekali-kali ia memandang keluar, memandang sekilas pada Nichkhun yang mengambil air.
“Aiiiissssssshhhh! Anio~anio~” Byung Cha menggembungkan pipinya.

Mereka berdua melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Nichkhun melap kaca pertama dari sudut belakang. Ia memandang sekilas pada Byung Cha. Namun, buru-buru ia mengalihkan pandangannya. Byung Cha yang sedari tadi menyapu, hanya memandang lantai. Tak mampu mengangkat wajahnya. Di rasakannya jantungnya semakin berdegup tak karuan.

“Aiishhh! Aku tidak menyukainya. Cuma tertarik! Anio~anio~ hanya malu! Anio~anio~ Aisssssshhhhhhh!” Byung Cha berkata dalam hati.

Tiba-tiba Nichkhun memandang lagi, dan Byung Cha pun mengangkat wajahnya. Ne! Pandangan mereka bertemu. Buru-buru mereka berdua memandang kearah lain.
“Aiissssshh! Pabo! Mengapa harus salting begini! Pasti dia tau kalau aku memandangnya. Aissssshhh!” Nichkhun turun dari kursi dan berkata pelan.

“Anio~anio~ Aku tidak suka padanya. Ingat tekadmu Byung Cha…Gapai cita-citamu dulu! Tak ada cinta sebelum menikah!” Byung Cha mengepalkan tangannya dan tersenyum aneh.

———————————-

Bel masuk berbunyi. Teeeeeeeeeeeeetttttttttttttt…………Teeeeeeeeeeeeetttttttttttttttt!
Para siswa Hana High School buru-buru memasuki kelas mereka. Begitu juga dengan kelas II A.
Pagi itu, Nichkhun dan Byung Cha berusaha bersikap biasa. Melakukan kegiatan seperti biasanya. Berusaha menyembunyikan perasaan mereka. Walaupun sekali-kali mereka memandang satu sama lain dari sedikit celah tanpa memperlihatkan wajah mereka.

———————————-
@Class II A
Pelajaran kimia dimulai. Kim seongsangnim menjelaskan pelajaran dengan bersemangat. Beberapa menit kemudian ia menyuruh murid untuk mengerjakan soal.
“Byung Cha! Kau kerjakan soal nomor satu!” Seongsangnim menunjuk Byung Cha.
“Ne~ Seongsangnim.” Byung Cha menyetujuinya dan berjalan kedepan kelas.
Kim seongsangnim memberikan spidol padanya.
“Nomor dua……..” Kim seongsangnim mengedarkan pandangannya pada seluruh siswa dikelas. “Kau! Nichkhun!”

Byung Cha berhenti menulis, dan jantungnya kembali berdentang-dentang tak karuan. Namun, ia berusaha bersikap biasa dan melanjutkan tugasnya dengan perasaan anehnya itu.

Nichkhun menulis tepat disamping Byung Cha. Dag dig dug…..Suara jantung semakin aneh. Tuuuuuuuuuukkkkk……..penghapus papan tulis terjatuh kelantai karena tangan Nichkhun dan Byung Cha yang menyentuhnya. Mereka berdua terdiam sebentar, dan bersamaan mengambil penghapus yang terjatuh! Dan……..sekali lagi tangan Nichkhun berada diatas tangan Byung Cha. Buru-buru Byung Cha menarik tangannya, dan melanjutkan menulis. Nichkhun mengambil penghapus dan menghapus pekerjaannya yang salah. Mereka berdua berusaha bersikap biasa seolah-olah tidak ada apa-apa.

Setelah selesai mengerjakan soal, Byung Cha berjalan menuju tempat duduknya. Nichkhun yang sudah selesai juga, berjalan dibelakangnya. Nichkhun berusaha berjalan lebih lambat dari Byung Cha agar tidak dalam posisi sejajar.

—————————————-

“Dongsaeng~ Besok aboji dan omoni pulang! Kau ingin ikut denganku menjemput mereka? Kita minta izin saja dari sekolah besok.” Kibum memberitahukan pada Nichkhun dengan wajah gembira.
“Ne~ Aku ikut!” Nichkhun tersenyum.

——————————————
Keesokan harinya
@Hana High School

Bel masuk berbunyi. Teeeeeeeeeeeetttttttttt…….Teeeeeeetttttttttttttttt………..
Byung Cha memandang kearah tempat duduk Nichkhun. Dengan tatapan sedikit kecewa ia memandangi kursi Nichkhun.

Pagi itu, pelajaran Bahasa Korea. Para siswa/siswi dibagi dalam beberapa kelompok. Kelompok Byung Cha duduk dideretan tempat duduk Nichkhun dan Byung Cha duduk tepat di kursi Nchkhun.
“Srrrrreeeeeeeeeeetttttttt………” Byung Cha menggeser meja. Dan sebuah diary jatuh dari meja Nichkhun. Byung Cha mengambil diary itu, dan buru-buru memasukkan diary tersebut kedalam tasnya.
—————————————
@Incheon Airport
“Kibum~a…….Nichkhun~a!” Nyonya Park melambaikan tangannya kearah Kibum dan Nichkhun.
“Omoni~” Kibum membalas lambaian ibunya tersebut.

Nyonya Park langsung menuju kearah kedua putranya tersebut sambil menggandeng Tuan Kim.
“Putra-putraku yang tampan!” Nyonya Park memeluk kedua putranya.
“Omoni~” Kibum menangis.

Tuan Kim memeluk Nichkhun. Sejak tadi Nichkhun hanya diam saja, tak berkata sedikitpun.
“Putra kecilku!” Tuan Kim memeluk Nichkhun erat.
“Aboji~” Nichkhun berkata pelan dan terdiam.

Tuan Kim memegang bahu Nichkhun dan membangunkan posisinya dari posisi kepala tidur dipelukan.
“Nichkhun~a! Ada apa denganmu?” Tuan Kim berteriak panik.
“Khun! Bangunlah~ Ada apa denganmu!” Kibum berusaha membangunkan Nichkhun.

Darah segar dari hidung Nichkhun berceceran dilantai.

————————————
@Seoul Hospital

“Ada apa dengan adikmu? Kenapa bisa seperti ini?” Nyonya Park menangis dipangkuan Kibum.
Sementara itu, Tuan Kim hanya mondar-mandir didepan ruang UGD.

———————————–
@Byung Cha’s bed room
#########################################
29 Desember 2009
Sarang?Love? Aku hanyalah seorang lelaki remaja yang tidak mengerti artimu.
Apakah itu wujudmu?
Apakah itu wajahmu?
Mungkin kematianku yang akan membawamu.
Pergi jauh darinya….

Don’t you know, there’s nothing I can do,
I gotta get to know you
I have to see this through I want it all
I gotta let you know, this feeling is so true
Coz I know that you’re One of a kind
And I can’t get you out of my mind…

4 my secret love.
By*n* Cha~ ^^
#########################################
Byung Cha hanya terdiam dan membaca puisi itu berkali-kali. Ia hanya tersenyum sambil membaringkan tubuhnya ke kasur dengan diary itu di dadanya.

—————————————-
@Seoul hospital
“Anak ibu terkena kanker otak stadium akhir.” Dokter menjelaskan pada Nyonya Park.
“Omo!” Nyonya Park tak mampu menahan air matanya yang mengalir begitu saja. Tubuhnya membeku, seakan-akan tidak berdaya lagi ia mengangkat tubuhnya untuk berdiri.

————————————
Keesokan harinya.

“Anak-anak~ teman kalian Nichkhun dirawat dirumah sakit sejak kemarin, jadi kelas akan mengirim 5 perwakilan untuk menjenguknya.” Kim seongsangnim memberitahukan pada seluruh siswa.
“Aku ikut seongsangnim~ Aku tidak bisa tinggal diam di sekolah, sementara sahabatku sedang sakit” Hangeng berkomentar.
“Ne~Kau ikut Hangeng! Lalu, Kwang Jin, Shin Hye, Min Hee dan…….”
“Aku ikut seongsangnim!” Byung Cha menunjuk dirinya.
“Baiklah! Kau Byung Cha!” Seongsangnim menyetujui.

———————————–
@Seoul Hospital
Byung Cha melihat Nichkhun dari luar ruangan. Ia tidak bisa menahan tangisnya. Namun, ia berusaha menghapus air matanya agar tidak terlihat orang.
“Kalian boleh masuk!” Dokter menyuruh Hangeng dan kawan-kawan untuk masuk.
“Khamsahamnida!” Hangeng menundukkan badan.

“Hey! Sob! Mengapa kau bisa seperti ini? Kelas sepi tanpamu!” Hangeng berusaha menghibur Nichkhun. Nichkhun hanya tersenyum kecil seperti berusaha menahan rasa sakit yang ia derita.

Nichkhun memandang Byung Cha dan tersenyum padanya. Byung Cha membalas senyuman Nichkhun.

“Secret love…” Byung Cha berkata pelan ditelinga Nichkhun sambil meletakkan buah yang dibawanya.
Seperti terkejut, Nichkhun kembali tersenyum padanya.

“Huk…huk…huk….huk…huk…” Nichkhun terbatuk terus-menerus, dan gumpalan-gumpalan darah terus keluar dari mulutnya.
“Khun! Kau kenapa?! Dokter! Dokter!” Hangeng panik dan berusaha memanggil dokter.

Dokter langsung memberikan bantuan pernapasan pada Nichkhun. Dengan napas sepenggal-sepenggal Nichkhun berusaha bernapas.
“Tolong semuanya keluar!” Dokter menyuruh Semua orang untuk meninggalkan ruangan.
“Heh…heh…Pasti dia sedang dalam masa-masa sulit sekarang! Aku tidak bisa menemaninya saat ia sakit! Aku bukan ibu yang baik!” Nyonya Park menangis dari balik kaca ruangan.
“Sudahlah omoni~ Jangan berkata seperti itu!” Kibum berusaha menenangkan.

@Nichkhun’s bed room
“Omoni~ O…mo…ni~” Nichkhun memanggil ibunya dengan tersengal-sengal.
“Suster! Panggil Nyonya Park kemari!” Dokter memerintahkan pada suster.
Ibu Nichkhun memasuki ruangan sambil memegang tangannya dan berusaha menghapus air matanya.
“Kau harus kuat sayang! Jangan tinggalkan omonimu ini. Kau anak yang kuat! Kuat ya sayang! Jangan tinggalkan omoni!” Nyonya Park memberi semangat pada Nichkhun.
“Omoni~ Aboji~ Hyung~Nae saranghae! Omoni~ Nae sa..rang..hae..” Nichkhun terdiam. Tangannya yang semula kuat menggenggam tangan ibunya mulai terlepas. Bibirnya terkatup, air matanya mengalir membasahi sedikit bantal yang ditidurinya.
“Hah…hah…hah…Khun…Khun…Khun…” Tangis nyonya Park mulai pecah kembali, tanpa suara. Tubuhnya lemah sembari mencium kening putra bungsunya itu.

Tuan Kim dan Kibum memasuki ruangan. Sementara yang lain tetap diluar. Hangeng pergi kesudut ruangan dan terduduk dikursi sembari menutup mukanya dan menangis.

“Nae sa…rang…hae…~” Byung Cha menangis, sesekali ia berusaha untuk tersenyum, namun hanya tangisanlah yang bisa ia keluarkan.

Nichkhun telah tiada membawa sedikit kemanisan hidup yang ia miliki.

=================THE END====================